8 Juli 2016

MUDIK, KEMACETAN DAN PENYAKIT PERNAPASAN

Press Release RSUP Persahabatan :

​Hari-hari terakhir ini banyak diberitakan tentang kemacetaan yang luar biasa di jalur mudik 2016 baik di jalan tol pejagan Brexit maupun pantura dari Cirebon sampai Tegal. Perjalanan dengan kendaraan bermotor maupun mobil dilakukan para pemudik untuk pulang kampung dilalui dengan kemacetan berjam-jam di jalan raya. Kondisi ini bisa saja terjadi kembali pada saat arus balik setelah mudik. Media sosial ramai membahas kemacetan ini dan bahkan dilaporkan ada korban yang meninggal 12 orang akibat kemacetan ini bukan akibat kecelakaan tetapi oleh berbagai penyebab masalah kesehatan yang belum diketahui. Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin kemacetan ini meningkatkan risiko masalah kesehatan ??. Marilah kita bahas masalah mudik, kemacetan dan penyakit paru dan pernapasan.

Potensi masalah kesehatan Pernapasan
​Berbagai kondisi dialami orang saat mudik, baik dengan kendaraan bermotor maupun mobil. Pemudik dihadapkan dengan kelelahan karena perjalanan panjang, kurang istirahat, stress psikologis , asupan makanan yang tidak teratur dan tidak optimal, kepadatan populasi karena bertemu dengan banyak orang di perjalanan, kontak dengan tempat umum yang kurang higienis dan tentunya pajanan polusi udara selama di perjalanan. Kondisi ini akan lebih parah bila terjadi kemacetan berjam-jam di jalan yang dilalui. Masalah yang dihadapi oleh pemudik ini tentunya memberikan dampak pada tubuh dan meningkatkan risiko masalah kesehatan secara umum maupun khusus pada pernapasan dan bahkan risiko kematian. Semua orang yang mudik memiliki risiko yang sama, meskipun begitu risiko lebih tinggi pada populasi yang rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang yang menderita penyakit kronik.

​Kelelahan dan kurang istirahat akan berdampak pada masalah kesehatan. Kelelahan dan kurang tidur berhubungan dengan terjadinya penurunan daya tahan tubuh (imunitas) serta  kurangnya system recovery tubuh. Penurunan daya tahan tubuh (imunitas) meningkatkan risiko terjadinya infeksi sedangkan kurangnya system recovery tubuh akan berdampak pada performa fisik seseorang. Performa fisik yang menurun berdampak pada kemampuan aktivitas fisik termasuk dalam mengemudi dan ini meningkatkan risiko kecelakaan.

​Stress psikologis selama perjalanan dan kemacetan ternyata berdampak pada masalah pernapasan. Kondisi stess mengaktivasi sistem simpatis dan adrenomedullary yang berdampak pada kecenderungan kontraksi otot polos termasuk otot polos saluran napas. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penyempitan saluran napas atau bronkrokonstriksi khususnya pada populasi yang sudah ada penyakit saluran napas sebelumnya seperti asma maupun penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). Maka risiko terjadinya serangan penyakit tersebut akan meningkat. Orang akan mengeluh sesak napas, napas berat dan bila tidak diatasi segera dapat meningkatkan risiko kematian.

​Kondisi kepadatan meningkatkan juga risiko terjadinya masalah kesehatan pernapasan. Kondisi kepadatan menyebabkan terjadinya kontak dengan orang lain meningkat dan ini dapat terjadi di tempat-tempat umum selama perjalanan seperti rumah makan, rest area, SPBU dan lainnya. Ditambah dengan kondisi tempat umum yang tidak higienis serta asupan makanan yang tidak optimal meningkatkan risiko transmisi penyakit pernapasan dari satu orang ke orang lain ataupun dari lingkungan ke orang. Kondisi ini diperparah oleh penurunan daya tahan tubuh karena kelelahan dan kurang isitirahat. Risiko terjadinya infeksi saluran napas meningkat seperti common cold, influenza, maupun infeksi saluran napas akut (ISPA).

Pemudik dengan kendaraan bermotor maupun mobil dihadapkan dengan peningkatan terpajan/terpapar polusi udara yang bersumber pada polusi asap kendaraan dan polutan lingkungan diperjalanan. Polusi udara mengandung bahan berupa gas dan partikel (particulate matter). Gas akibat polusi udara kendaraan bermotor terdiri atas gas iritan seperti nitrit oksida (NOx), ozon (O3), sulphur dioksid (SOx) dan gas asfiksian seperti karbondioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO). Komponen lain dari polutan kendaraan bermotor adalah particulate matter (PM) seperti PM 10, PM 2,5 yang umumnya bersifat iritatif.  Kemacetan yang terjadi saat mudik meningkatkan akumulasi bahan polutan dari kendaraan tersebut di lingkungan sekitar pemudik.

Bahan polutan yang bersifat iritatif (baik gas maupun PM) umumnya menyebabkan iritasi pada mukosa seperti mukosa mata menyebabkan mata merah, berair. Pada hidung menyebabkan hidung berair, gatal dan hidung mampet atau hidung tersumbat. Pada saluran napas atas menyebabkan sakit tenggorokan, gatal tenggorokan dan batuk-batuk serta pada saluran napas bawah dapat menyebabkan sesak napas, batuk berdahak. Proses iritasi yang terjadi dapat meningkatkan akumulasi kuman di saluran napas dan meningkatkan terjadinya infeksi saluran napas akut (ISPA). Bahan polutan yang bersifat asfiksian yaitu gas CO2 dan CO bila terhirup ke saluran napas dapat menyebabkan asfiksia atau sesak napas karena kurang oksigen. Gas CO2 maupun CO bersifat toksik  ke tubuh dengan mekanisme menurunkan kandungan oksigen yang masuk ke dalam darah akibatnya tubuh kekurangan oksigen(hipoksemia). Gas CO2 bersifat asfiksian fisik, mengurangi kadar oksigen dalam udara bebas sehingga kandungan oksigen yang masuk lewat napas berkurang.

Pada ruangan tertutup, seperti dalam kabin kendaraan akumulasi gas CO2 menurunkan oksigen dalam kabin sehingga potensi kekurangan oksigen meningkat. Sedangkan gas CO apabila terhirup ke dalam saluran napas dan paru menyebabkan CO berikatan dengan sel darah merah (Hemoglobin) 300 x lebih kuat daripada Hb berikatan dengan oksigen, akibatnya darah kekurangan oksigen yang disebut hipoksemia.  Gejala yang muncul pada orang yang terhirup gas ini dari ringan seperti mual-mual, sakit kepala atau pusing. Bila akumulasi berlanjut dapat timbul sesak napas, kesadaran menurun sampai pingsan dan terakhir dapat menimbulkan kematian. Pada populasi dengan penyakit kronik yang sudah ada sebelumnya kondisi hipoksemia dapat memperburuk penyakitnya dan menimbulkan kematian.

Upaya pencegahan
Upaya pencegahan dampak kesehatan paru dan pernapasan saat mudik dapat dilakukan oleh individu yang ingin melakukan mudik maupun balik ke Jakarta setelah mudik. Masing-masing individu harus melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan. Secara prinsip upaya pencegahan dan penanganan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu primer, sekunder dan tersier.


A. Upaya Primer
Upaya primer bertujuan untuk mencegah orang-orang tersensitisasi menjadi sakit dengan minimalisasi risiko , contohnya sebagai berikut :

1. Pastikan kondisi kendaraan baik, cek tidak ada kebocoran gas yang masuk ke dalam ruang dalam kabin kendaraan (untuk kendaraan mobil).

2. Memastikan kondisi kesehatan sebelum berangkat dalam kondisi sehat

3. Catat semua riwayat kesehatan anggota keluarga yang ikut, terutama terkait penyakit-penyakit yang diderita dan perhatian khusus pada anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit kronik.

4. Pada saat kemacetan, bila menggunakan kendaraan mobil, disarankan untuk tetap berada di dalam kendaraan mobil asalkan tidak ada kebocoran gas ke dalam ruang kabin kendaraan. Tutup jendela dan pintu kendaraan mobil untuk mengurangi masuknya asap polusi dan partikel ke dalam kendaraan. Nyalakan AC dengan mode recirculate, jangan mode outdoor circulate yang mengambil udara dari luar.

5. Bila terjadi kemacetan total dan udara di luar tidak panas, matikan mesin mobil untuk mengurangi polusi udara di sekitar kemacetan.

6. Hindari menambah bahan polusi udara di yang dapat masuk ke dalam tubuh misalnya tidak merokok.

7. Gunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam saluran napas dan paru (terutama bila beraktivitas di luar ruangan dan pengguna kendaraan bermotor roda dua). Bagi pengguna kendaraan mobil, tetap sediakan masker jika dalam kondisi tertentu dapat digunakan. Perhatikan cara penggunaan masker atau respirator yang benar dan tepat. Penggunaan masker atau respirator yang tidak benar mengurangi efektivitas proteksi memfiltrasi/menyaring partikel.

8. Apabila memungkinkan, hindari kawasan atau area yang mengalami kemacetan saat mudik maupun arus balik, pilih jalur yang lebih lancar dan minim kemacetan.

9. Lakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti makan bergizi, cuci tangan dan lainnya. Sering mencuci tangan terutama setelah menggunakan fasilitas umum (mencuci tangan dapat menggunakan air atau handsrub berbasis alkohol).

10. Usahakan dapat istirahat selama perjalanan agar tubuh tetap fit, jangan dipaksakan untuk tetap mengemudi tanpa istirahat.


B. ​Upaya Sekunder

Upaya skunder bertujuan untuk deteksi dini dan pengobatan dini masalah kesehatan yang muncul, contohnya dengan upaya sebagai berikut :

1. Mengenali gejala-gejala atau keluhan paru dan pernapasan yang timbul.Perhatian pada kelompok rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit sebelumnya (penyakit jantung, asma, PPOK dan penyakit paru lainnya), mengenali tanda-tanda terjadinya perburukan atau serangan. Hal ini sebagai upaya deteksi dini sehingga pengobatan awal dapat segera dilakukan.

2. Bila mencium bau gas , matikan mesin dan cek kendaraan apakah terjadi kebocoran gas ke dalam kabin.

3. Kenali gejala dan tanda keracunan gas CO ataupun CO2 sedini mungkin seperti sakit kepala, pusing,  mual-mual. Bila hal itu terjadi segera keluar kendaraan, cari tempat teduh dan cari pertolongan medis segera.

4. Mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan awal. Diutamakan bagi yang mempunyai penyakit sebelumnya agar memastikan bahwa obat-obatan yang dikonsumsi rutin cukup banyak tersedia seala perjalanan mudik maupun arus balik. Contohnya bagi penderita asma dan PPOK, bawalah obat-obat rutin yang biasa dikonsumsi.

5. Segera ke dokter/pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat apabila terjadi masalah kesehatan yang timbul atau terjadi perburukan/serangan pada orang yang mempunyai penyakit jantung atau paru sebelumnya.


C.Upaya Tersier
Upaya tersier bertujuan untuk mencegah komplikasi dan kematian pada populasi yang sudah menderita penyakit saat perjalanan mudik atau arus balik.

1. Apabila sudah terkena penyakit selama perjalanan, segera lakukan pengobatan maksimal dan teratur dengan berobat ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat. Mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter dari fasilitas kesehatan tersebut secara teratur.

2. Jika diperlukan perawatan atau rawat inap. Pengobatan harus dilakukan secara maksimal oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Rujukan ke tingkat pelayanan lebih tinggi perlu dilakukan apabila sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang tersedia belum mencukupi.

D. Kepada instansi/Pemerintah Daerah/Penggiat Kesehatan yang melaksanakan pelayanan KESEHATAN mudik agar menyiapkan Sarana oksigen secukupnya Untuk memudahkan pertolongan Pertama pada kasus sesak nafas akibat keracunan gas/kekurangan oksigen, menyiapkan Sarana angkutan Untuk  merujuk pasien ke rumah sakit terdekat bila perlu, melengkapi persediaan Obat bagi pemudik, melakukan sosialisasi gejala awal keracunan gas/kekurangan oksigen dikalangan petugas KESEHATAN dan para pemudik dan memperluas Akses petugas KESEHATAN dititik kemacetan agar dapat melakukan deteksi awal keadaan tersebut sehingga terjadinya akibat fatal tesebut tidak terulang Lagi ditahun-tahun mendatang.

Pemerintah diharapkan dapat menempatkan alat deteksi polusi udara di daerah rawan kemacetan agar dapat segera terpantau jumlah polutan berbahaya bagi kesehatan.

terima kasih.


Jakarta, 7 Juli 2016

ttd.

Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi ​dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan

Ketua Departemen Pulmonologi ​dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan

18 Oktober 2015

ISPU dan kebakaran hutan

Monitor ISPU di Balikpapan
Kebakaran hutan yang terjadi setiap musim kemarau beberapa tahun terakhir di Sumatra dan Kalimantan menimbulkan berbagai dampak negatif tidak hanya di tempat terjadinya kebakaran hutan, namun juga meluas ke berbagai daerah lain dan bahkan negara tetangga.  Salah satu dampak kebakaran hutan adalah terjadinya pencemaran udara yang berpotensi mengganggu kesehatan setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam/hari/bulan.. Keparahan pencemaran udara bisa diukur dengan berbagai cara, yang paling sering digunakan adalah Insdeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

28 Mei 2015

Magnesium sulfat pada asma akut berat

Asma eksaserbasi akut berat berpotensi mengancam  jiwa pasien karena itu penatalaksanaannya perlu penilaian yang tepat dan pemantauan ketat. Pemberian bronkodilator dengan inhalasi short acting beta-2 agonis (SABA) beberapa kali akan segera membuka saluran napas, sambil menunggu penyebab perburukan asma dikendalikan atau peningkatkan dosis obat pengontrol  mulai bekerja. Selain SABA, pada asma eksaserbasi akut berat, perlu ditambahkan kortikosteroid, antikolinergik, aminofilin/teofilin, dan megnesium.

8 Mei 2015

Aminoglikosid, obat anti tuberkulosis

Antibiotik aminoglikosid merupakan obat yang efektif untuk melawan berbagai bakteri meliputi enterokokus, bakteri gram negatif dan mikobakterium. Penelitian Waksman pada tahu 1940 an membuktikan manfaat streptomisin untuk melawan kuman TB. Sejak itu beberapa aminoglikosida baru ditemukan dengan aktifitas antimikroba yang luas. Aminoglikosida yang terbukti mampu melawan kuman TB adalah streptomisin, kanamisin dan amikasin.

15 April 2015

Etambutol, obat antituberkulosis (OAT)

Struktur etambutol
Etambutol ditemukan pertama kali 1961 dan dianjurkan penggunaannya sebagai OAT pada 1966. Diberikan secara oral, 70-80% obat diabsorbsi. Makanan tidak mengganggu uptake obat, namun absorbsi akan berkurang bila diminum bersamaan dengan antasida. Obat ini terdistribusi dengan cepat ke seluruh tubuh kecuali sistem saraf pusat, hanya 10-50% dibandingkan kadar obat dalam plasma.

22 Desember 2014

Seberapa sulit berhenti merokok?

Sebagian (kecil) perokok bisa dengan mudah berhenti dari kebiasaan merokok, namun sebagian besar lainnya ternyata sulit berhenti bahkan ada yang selalu gagal setiap kali mencoba berhenti merokok. Fagerstrom membuat suatu indeks yang akan menilai seberapa berat ketergantungan dirinya terhadap rokok, semakin tinggi nilainya semakin berat ketergantungannya.

30 November 2014

Senam Asma, mengapa penting?

Senam Asma Indonesia (SAI) merupakan bentuk latihan pendukung terapi bagi penderita asma karena pola gerakannya sangat cocok bagi penderita asma, sehingga akan mengoptimalkan program pengobatan asma. Senam ini mudah dipahami, mudah dikerjakan, mudah diajarkan, tepat guna dan tepat sasaran. Selain itu SAI sangat bermanfaat baik dari segi fisik maupun psikis. Kali ini kita akan bahas beberapa alasan mengapa SAI sangat di  perlukan penderita asma.