25 Januari 2013

BRONKIEKTASIS (BE)


Bronkiektasis (BE)adalah penyakit saluran napas kronik ditandai dengan dilatasi abnormal yang permanen disertai rusaknya dinding bronkus. Biasanya pada daerah tersebut ditemukan perubahan yang bervariasi termasuk di dalamnya inflamasi transmural, edema mukosa (BE silindris), ulserasi (BE kistik) dengan neovaskularisasi dan timbul obstruksi berulang karena infeksi sehingga terjadi perubahan arsitektur dinding bronkus serta fungsinya.
Keadaan yang sering menginduksi terjadinya BE adalah infeksi, kegagalan drainase sekret, obstruksi saluran napas dan atau gangguan mekanisme pertahanan individu.
Di seluruh dunia angka kejadian BE tinggi, biasanya terjadi pada negara terbelakang atau berkembang. BE kebanyakan terjadi pada penduduk usia pertengahan sampai lanjut, sedangkan akibat penyakit kongenital terjadi pada usia muda. Tingkat sosial ekonomi yang rendah, nutrisi buruk, perumahan yang tidak memadai dan sulit mendapatkan fasilitas kesehatan karena alasan finansial atau jangkauan fasilitas kesehatan mempermudah timbulnya infeksi tersebut.

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI
BE adalah dilatasi abnormal bronkus, pada daerah proksimal bronkus (diameter > 2 mm) disertai destruksi komponen otot dan jaringan elastik dinding bronkus yang dapat terjadi secara kongenital ataupun didapat karena sebab infeksi kronik saluran napas. BE kongenital terjadi pada bayi dan anak sebagai akibat kegagalan pembentukan cabang-cabang bronkus. Kerusakan komponen otot dan jaringan elastik dinding bronkus merupakan respon tubuh terhadap infeksi berupa proses inflamasi yang melibatkan sitokin, oksida nitrit dan neutrofil protease sehingga terjadi kerusakan pada jaringan alveolar peribronkial dan selanjutnya terjadi fibrosis peribronkial. Akhirnya terjadi kerusakan dinding bronkus dan inflamasi transmural sehingga terjadi dilatasi abnormal bronkus. Pada keadaan ini biasanya ditemukan gangguan pembersihan sekresi (mucous clearance) pada bronkus dan cabang-cabangnya. Kegagalan proses pembersihan sekresi menyebabkan kolonisasi kuman dan timbul infeksi oleh kuman pathogen yang ikut berperan dalam pembentukan mucus yang purulen pada penderita BE.

Gambaran patologi
BE lebih sering ditemukan di paru kiri daripada kanan, mungkin karena diameter bronkus utama kiri lebih kecil daripada kanan. Kelainan lebih sering ditemukan di lobus bawah khususnya segmen basal. Lynne Reyd membagi BE menjadi 3 bentuk berdasarkan pelebaran bronkus dan derajad obstruksi, sebagai berikut:
1.    Bentuk silindrik (tubular)
Seringkali dihubungkan dengan kerusakan parenkim paru, terdapat penambahan diameter bronkus yang bersifat regular, lumen distal bronkus tidak begitu melebar.
2.    Bentuk varikosa (fusiform)
Pelebaran bronkus lebih lebar dari bentuk silindrik dan bersifat irregular. Gambaran garis irregular dan distal bronkus yang mengembang adalah gambaran khas pada bentuk varikosa.
3.    Bentuk sakuler (kistik)
Dilatasi bronkus sangat progresifmenuju ke perifer bronkus. Pelebaran bronkus ini terlihat sebagai balon, kelainan ini biasanya terjadi pada bronkus besar, pada bronkus generasi ke 4. Bentuk ini juga terdapat pada BE congenital.

Etiologi dan faktor predisposisi
Banyak penyebab yang menjadi etiologi maupun faktor predisposisi terjadinya BE antara lain:
1.    Infeksi primer (bakteri, jamur dan virus)
BE mungkin sebagai sequel dari nekrosis setelah infeksi akibat pengobatan yang buruk atau tidak diobati sama sekali. Infeksi dapat disebabkan oleh kuman tipikal seperti Klebsiela, Staphilococcus aureus, Mycobacterium tuberculosis, Mycoplasma pneumonia, measles, pertusis, influenza, herpes simplex dan beberapa tipe adenovirus. Pada anak respiratory syncytial virus dapat menyebabkan BE. BE juga bisa juga disebabkan oleh Mycobacterium avium complex (MAC) yang terjadi pada penderita HIV dan imunokompremis.
2.    Obstruksi bronkus
Tumor endobronkial, benda asing atau stenosis bronkus karena penekanan akibat kelenjar getah bening leher yang membesar dapat menyebabkan BE. Sindrom lobus tengah kanan merupakan bentuk spesifik obstruksi bronkus yang akhirnya akan menyebabkan BE karena angulasi abnormal lobus tersebut. Timbulnya obstruksi bronkus dan infeksi kronik merupakan faktor predisposisi terbentuknya BE.
3.    Fibrosis kistik
Ini merupakan penyakit autosomal resesif dengan kelainan utama pada paru dengan gambaran umum BE. BE berhubungan dengan fibrosis kistik terjadi secara sekunder karena terkumpulnya mucus pada jalan napas bagian atas dan terjadinya infeksi kronis.
4.    Sindroma Young
Gambaran klinis sama denga fibrosis kistik. Sindrom ini ditemukan BE disertai sinusitis dan azoospermia, sering terjadi pada pria usia pertengahan.
5.    Diskinesia siliar primer
Manifestasinya adalah immotile dan/atau diskinetik silia dan spermatozoa. Keadaan ini menyebabkan gangguan bersihan mukosilier infeksi berulang dan akhirnya terjadi BE. Sindrom Kartagener dengan triad gambaran klinik berupa situs inversus, sinusitis dan BE adalah sebagai akibat immobility silia pada saluran napas.
6.    Aspergilosis bronkopulmoner alergi
Merupakan reaksi hipersensitiviti terhadap inhalan antigen Aspergilus dengan gambaran bronkospasme, BE dan reaksi imunologi oleh spesies Aspergilus. Dikatakan aspergilus bronkopulmoner alergi adalah apabila pada penderita tersebut ditemukan batuk produktif dan juga memiliki riwayat asma yang tidak respons dengan terapi konvensional.
7.    Keadaan imunodefisiensi
Imunodefisiensi dapat terjadii secara congenital maupun didapat. Imunodefisiensi ini melibatkan gangguan gangguan fungsi limfosit B. penderita dengan hipogammaglobulinemia biasanya muncul saat anak dengan riwayat sinusitis atau infeksi paru berulang. Penderita HIV/AIDS merupakan implikasi terjadinya BE dan digambarkan dengan timbulnya percepatan kerusakan bronkus karena infeksi berulang.
8.    Defek anatomi kongenital
Skuester bronkopulmoner, sindroma Williams-Campbell (defisiensi congenital kartilago), Sindrom Mounier-Kuhn (tracheobronkomegali), Sindrome Swyer-Jamer (unilateral hyperlucent lung) dan sindrom yellow-nail mempermudah timbulnya BE.
9.    Defisiensi alpha 1-antitripsin
Patogenesisnya belum jelas
10.  Penyakit reumatik
Komplikasi rheumatoid arthritis dan sindrom Sjogren dapat terjadi BE, tetapi patogenesisnya belum jelas.
11.     Traksi bronkiektasis
Ini merupakan distorsi jalan napas sekunder karena distorsi parenkim paru dari fibrosis pulmoner.
12.     Merokok
Bagaimana merokok dapat menyebabkan terjadinya BE masih belum jelas namun demikian asap rokok dan infeksi berulang dapat mempercepat kerusakan dinding bronkus.

Gambaran klinis
Tanda dan gejala yang timbul tergantung dari beratnya penyakit, penyebaran, lokasi, ada tidaknya komplikasi dan penyakit yang mendasarinya. Gejala pada BE dapat disebabkan karena BE-nya saja atau karena penyakit dasarnya. Gejala akibat BE-nya saja dapat berupa batuk kronik, dahak purulen, panas, lemah dan berat badan menurun.

Pada penderita BE sering ditemukan batuk dengan banyak dahak bersifat purulen terutama terjadi setelah istirahat lama terlentang yaitu pada pagi hari. Secara makroskopik dapat dijumpai sputum 3 lapis yaitu lapisan busa, lapisan purulen (hijau, kuning) dan lapisan mukoid. Dapat juga dijumpai BE yang kering tidak banyak dahak, hal ini tergantung pada lokasi BE, misalnya pada tempat yang alirannya baik. Dengan mengitung volume dahak/24 jam dapat ditentukan berat ringannya penyakit. Ellis dkk mengelompokkan BE menjadi BE ringan (volume dahak <10 ml/hari), BE sedang (10-150 ml/hari) dan BE berat (>150 ml/hari)
Batuk darah jarang terjadi pada BE kering, lebih banyak terjadi pada BE dewasa. Gejala sesak napas banyak ditemukan pada BE luas yang telihat pada gambaran foto toraks. Pemeriksaan fisik kadang tidak dijumpai kelainan. Kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik tergantung pada luas, derajat dan ada tidaknya obstruksi saluran napas. Pada auskultasi sering dijumpai ronki basah, biasanya pada basal paru dan sering dijumpai jari tabuh.

Riwayat penyakit
Batuk dan produksi sputum  mukopurulen selama beberapa bulan sampai tahun merupakan gambaran yang spesifik. Gejala yang kurang spesifik adalah dispneu, nyeri dada pleuritik, mengi, batuk darah, demam, lemah dan kehilangan berat badan. BE “kering” manifestasinya adalah batuk darah secara episodic dengan sedikit atau tanpa sputum dan biasanya merupakan gejala sisa tuberkulosis dan ditemukan pada lobus atas paru. Penderita mungkin secara episodik terkena bronkitis atau infeksi paru sehingga terjadi eksaserbasi dalam bentuk BE dan sering memerlukan antibiotik. Infeksi bakterial akut biasanya terjadi karena peningkatan produksi sputum, peningkatan kekentalan sputum dan tidak jarang menghasilkan sputum yang berbau.

28 komentar:

noorman mengatakan...

Dok klo obat antibiotik TBC sama Bronkiektasis apa beda? Thanks advance

Klik Paru mengatakan...

TB atau TBC adalah infeksi karena kuman Mycobacterium tuberculosis, perlu minum obat anti tuberkulosis selama minimal 6 bulan. Sedang bronkiektasis adalah gambaran radiologis yang khas karena kerusakan saluran napas akibat infeksi lama atau keturunan. Bronkiektasis tidak perlu antibiotik, kecuali didapatkan bukti ada infeksi kuman.

Anonim mengatakan...

Dok, kalo boleh tau ini sumbernya Dari mana?? Guideline bronkiektasis yg paling sering dipakai itu apa y dok?? Terimaksiih

Klik Paru mengatakan...

Saya ambil dari berbagai sumber, sayangnya saat itu lupa mencantumkan sumbernya ke dalam daftar kepustakaan. Akan saya cari datanya, terima kasih.

Anonim mengatakan...

Dok saya sudah 5 bulan mengeluarkan dahak tetapi tidak batuk. Itu kira2 kenapa ya dok , mohonnjawabannya

Anonim mengatakan...

Dok saya sudah 5 bulan mengeluarkan dahak tetapi tidak ada batuk, kira2 itu kenapa ya dok ?apakah parah?mohon jawabannya

Klik Paru mengatakan...

Keluar banyak dahak tanpa (jarang) batuk bisa terjadi akibat kelainan dari beberapa organ tubuh, diantaranya paru, THT, gigi & mulut serta lambung. Bila kelainan dari paru biasanya disertai rasa tidak nyaman sampai nyeri dada, nafas sesak atau berat, dll. Bila karena kelainan di THT, biasanya ada masalah juga di THT, misalnya radang tenggorokan, amandel, sering pilek, sinusitis atau gangguan telinga. Kelainan pada gigi dan mulut kadang merangsang produksi saliva berlebihan. Asam lambung normalnya ada di lambung, bila naik ke tenggorokan kadang merangsang sekresi cairan di situ.
Saran: silahkan konsultasi ke dokter umum / atau dokter gigi sesuai dengan keluhan anda, bila perlu dengan dokter spesilis terkait. Bila penyebabnya sudah ditemukan, maka pengobatan akan lebih fokus.

Anonim mengatakan...

Bagaimana langkah penyembuhan Bronkiektasis ini Dokter?

Klik Paru mengatakan...

Karena penyebabnya yang bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor predisposisi, maka pengobatan BE harus memperhatikan kedua hal tersebut. Tujuan pengobatan adalah menghilangkan keluhan, mencegah eksaserbasi, menekan komplikasi, meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan angka kematian.
Saat eksaserbasi, biasanya diberikan antibiotik yang sesuai dan fisioterapi, kalau diperlukan bisa ditambah oksigen, bronkodilator, mukolitik, dan nutrisi yang baik. Kadang perlu terapi bedah.

elda citra sari mengatakan...

Dok adakah pengobatan untuk emnyembuhkan bronkiektasis? Atau pengobtatannya semua hanya bersifat simptomatik saja?

Klik Paru mengatakan...

Elda: BE adalah kelainan paru berupa kerusakan struktur bronkus pada cabang proksimal (awal). Pengobatan sesuai keluhan, lebih agresif bila terjadi eksaserbasi. Bila kelainan paru lokal (segmen atau lobus) bisa dilakukan bedah segmentektomi atau lobektomi. Bila kelainan luas dan menimbulkan komplikasi yang berat, dilakukan pneumektomi (pengambilan satu paru total) namun fungsi paru akan berkurang.

nurul huda mengatakan...

dok,.. BE apakah bisa menular,..? trumakasih

nurul huda mengatakan...

dok,.. BE apakah bisa menular,..? trumakasih

nurul huda mengatakan...

dok,.. BE apakah bisa menular,..? trumakasih

Klik Paru mengatakan...

BE adalah kelainan struktur paru, tidak menular. Namun bila penderita BE juga terinfeksi kuman, jamur atau virus, maka infeksi tersebut bisa menular.

Endand mengatakan...

Dok,. Saya di diagnosis terkena bronchitis. Dari hasil foto rontgen didptkan bronchitis kronis ttp saya tidak pernah batuk yg lama, pernah batuk ketika hbs tidur atau makan - makanan yg berminyak. Saya konsul ke dr spp dikatakan klo ada BE tp itu sdh bekas lama artinya saya dl pernah batuk tp sembuh sendiri dan meninggalkan bekas ya BE td. Yg ingin saya tanyakan apalah benar demikian? Klo diagnosis saya bronchitis apakah ada yg spt saya tidak disertai batuk2 atau berdahak? Saya jg klo udara merasakan didaerah dada spt tertusuk,2, rasanya nyeri tembus kebelakang. Apakah pengaruh BE? Mohon pencerahannya

Endand mengatakan...

Mksdnya jika udara dingin, atau terkena AC atau terlalu intens terkena kipas angin atau udara dingin spt mau hujan, didada saya terasa spt tertusuk2, bkn satu tmp tp kedua dada saya nyeri tertusuk2 tembus kebelakang, rasa tertusuknya itu kuat dan kayanya banyak nyerinya. Knp ya dok??? Pengaruh bronchitis nya atau BE nya?

Klik Paru mengatakan...

Endand: dari uraian Anda, tampaknya ada gambaran bronkitis dan / atau BE pada foto dada Anda. Kalau tidak ada keluhan respirasi dalam waktu lama (kronik) atau berulang, kemungkinan tidak berbahaya. Untuk kehati-hatian sebaiknya foto ulang 6 bulan atau setahun ke depan dan dibandingkan dengan foto kemarin. Bila kena udara dingin atau kipas angin ada keluhan, bisa difikirkan kemungkinan alergi pada saluran napas atau GERD (asam lambung yang naik ke kerongkongan).

brian mengatakan...

Dokter saya penderita BE, sdh menjalani pengobatan 2 bulan krn hasil rontgen ada lubang2 kecil d paru2 sblah kiri. Akan ttp kata Dokter spslis paru dr hasil rontgen yg k3 skrng lubang2 kecil sdh trtutup cm msh menjalani pengobatan.
Yg saya tanyakan :
1. Bagaimana yg saya lakukan ketika seorang BE sdh tdk menjalani pengobatan.
2. Saya penyuka olahraga marathon, gym dan renang. Bahayakah olaraga tsb bagi BE yg saya usia 36 thn dan saya tdk ada gejala sesak napas nyeri dada ttp kmrn ke spesialis paru krn batuk2 dgn lendir kuning banyk dan ada darah 1%.
3. Saya sering kena flu dari sebelum didiagnosis BE, bahayakah flu bagi BE dan apa yg hrs saya lakukan?

Trima kasih.

Ahmad Subagyo mengatakan...

Brian:
1. Selalu menjaga kesehatan fisik dan psikis serta menghindari polusi udara
2. Silahkan berolah raga sesuai keinginan, tentunya konsultasi dengan pelatih/pembimbing untuk menentukan batas maksimal latihan yang bisa dilakukan
3. Saat kondisi stabil, segera vaksinasi Flu

Jatanai Id mengatakan...

Dok sya beberapa bulan ini mengeluarkan lendir dr tenggorokan dan akhir2 saya btuk disertai dgn darah yg sedikit kira2 ini penyakit sdh paeah kh dok ya. Dn bagaimana cara penanganannya.

Unknown mengatakan...

Dok saya batuk gatal trus dahak seperti gel.. Putih dan berserat.. Itu penyakit paru apa yh.. Batuk nya gatal susah sembuh

M.mading mengatakan...

Cara penyembuhan nya gmna yh

Ahmad Subagyo mengatakan...

Jatanai Id: keluhan men geluarkan dahak berbulan-bulan kemudian disusul batuk dengan dahak bercampur darah, menunjukkan ada penyakit yang berlangsung lama dan makin lama makin berat. Semua penyakit dengan batuk darah harus kita anggap serius sampai ada bukti sebaliknya. Segera ke dokter untuk pemeriksaan lebih mendalam.

Unknown: Informasi Anda singkat banget, sulit untuk menentukan. silakan segera konsultasi ke dokter untuk memastikan masalahnya.

M Mading: Karena kelainan struktural, BE susah disembuhkan. Pengobatan sesuai dengan keluhan yang ada, kadang perlu operasi bila kelainannya sangat berat/luas, atau terjadi komplikasi yang mengancam jiwa.

dewi juwita mengatakan...

Dokter saya mau kosul, pasien 66thn dari hsl ct scan hasilnya epulsi pleura bilateral dan bronkiektasis, RPT : TB, DM, RA, HIPERLIPIDEMIA. Dokter menyarankan utk WSD, yg mau saya tanyakan, apakah jika dilakukan WSD, akan banyak membantu ?

Ahmad Subagyo mengatakan...

Dewi Juwita: Efusi pleura bilateral penyebabnya bisa dari paru atau luar paru (gangguan jantung, ginjal, kekurangan albumin dll.) Bila penyebabnya dari luar paru, maka penyebabnya harus diatasi juga. WSD jadi pilihan bila cairan efusi banyak, cairan cenderung pekat atau diprediksi berulang.Bila cairan sedikit dan jernih ada pilihan lain yaitu pungsi pleura. Apapun pilihannya, dokter Anda tentu sudah mempertimbangkan segala sesuatunya.

selia mengatakan...

Dok, sy ingin bertanya.. Ibu saya sedang di rawat di RS, yg nerupakan pasien hd. Ibu sy sering keringat dimalam hari dan sesak nafas pd malam hari dikarenakan tensi tinggi lalu batuk.. Setiap batuk katanya selalu seperti berdesis di paru2nya. Setelah ronsen, hasilnya bahwa ada cairan di paru2nya.. Dokter menyarankan untuk hd selama 3x dlm seminggu dari yg biasanya 2x seminggu untuk mengeluarkan cairan di paru2, lagi pula badan ibu saya sudah agak membengkak, kata dokter karna ginjalnya sudah sensitif.
Akhir2 ini ibu saya batuk berdahak, makan selalu kurang nafsu dan selalu merasa mual saat sedang makan, badan lemas. Tetapi ibu saya tdk demam..
Yg ingin saya tanyakan dok, ciri2 tersebut bikan ciri2 dari penyakit paru kan dok? Bukan tbc atau be kan dok?
Itubkarna pengaruh ginjal yg tidak bekerja baik sebagaimana mestinya bukan dok? Mohon jawabannya dok. Terimakasih sebelumnya.

Ahmad Subagyo mengatakan...

Selia: kemungkinan ibu Anda sedang mengalami edema paru, salah satu pengobatannya adalah meningkatkan frekuensi HD sehingga kesempatan untuk "menarik" cairan dalam paru bisa lebih efektif. Penyebab edema paru bisa akibat gangguan lokal di paru, bisa juga kelainan/penyakit dari luar paru. Dengan memastikan penyebabnya, pengobatan akan lebih pas.