25 Januari 2013

PNEUMONIA


Pneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit) selain yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lain) disebut pneumonitis. Pengobatan yang terlambat atau tidak tepat bisa mengancam jiwa penderita.

Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negatif.

Patogenesis
Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dapat berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Resiko infeksi di paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk sampai dan merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara mikroorganisme mencapai permukaan :
1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi dipermukaan mukosa

Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah secara kolonisasi. Secara inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau jamur. Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5 -2,0 ┬Ám melalui udara dapat mencapai bronkiolus terminal atau alveol dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi dari sebagian kecil sekret orofaring terjadi pada orang normal waktu tidur (50 %) juga pada keadaan penurunan kesadaran, peminum alkohol dan pemakai obat (drug abuse).

Klasifikasi
1.   Berdasarkan klinis dan epidemiologis
a.   Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b.   Pneumonia nasokomial (kospital-acquired pneumonia / nosocomial pneumonia)
c.   Pneumnia aspirasi
d.   Pneumonia pada penderita immunocompromised
2.   Berdasarkan bakteri penyebab
a.   Pneumonia bakterial / tipikal, disebabkan bakteri
b.   Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c.   Pneumonia virus
d.   Pneumonia jamur, sering merupakan infeksi sekunder dan predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah.
3.   Berdasarkan predileksi infeksi
a.   Pneumonia lobaris, terjadi pada satu lobus atau segmen, kemungkinan sekunder karena obstruksi bronkus misalnya pada aspirasi benda asing atau proses keganasan. Jarang pada bayi dan orang tyua.
b.   Bronkopneumonia, ditandai bercak infiltrat pada paru disebabkan oleh bakteri atau virus. Sering pada bayi dan orang tua.
c.   Pneumonia interstisial

Diagnosis
Gambaran klinis biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat melebihi 40 0C , batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada. Hasil pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di paru. Pada inspeksi dapat terlihat
bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas, pada palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.

Pemeriksaan penunjang
1.     Gambaran radiologis. Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi serta gambaran kaviti. Foto toraks saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering disebabkan oleh Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukkan konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapat mengenai beberapa lobus.
2.     Pemeriksaan labolatorium. Pada pemeriksaan labolatorium terdapat peningkatan jumlah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/ul kadang-kadang mencapai 30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi peningkatan LED. Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi. Kultur darah dapat positif pada 20-25% penderita yang tidak diobati. Analisis gas darah menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.

Pengobatan
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian antibiotik pada penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya, akan tetapi karena beberapa alasan yaitu :
1. penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
2. bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab pneumonia.
3. hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu.
maka pada penderita pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris. Secara umum pemilihan antibiotik berdasarkan baktri penyebab pneumonia dapat dilihat sebagai berikut:
1.     Penisilin sensitif Streptococcus pneumonia (PSSP)
a.     Golongan Penisilin
b.    TMP-SMZ
c.      Makrolid
2.     Penisilin resisten Streptococcus pneumoniae (PRSP)
a.     Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan)
b.    Sefotaksim, Seftriakson dosis tinggi
c.     Marolid baru dosis tinggi
d.    Fluorokuinolon respirasi
3.     Pseudomonas aeruginosa
a.     Aminoglikosid
b.    Seftazidim, Sefoperason, Sefepim
c.     Tikarsilin, Piperasilin
d.    Karbapenem : Meropenem, Imipenem
e.     Siprofloksasin, Levofloksasin
4.     Methicillin resistent Staphylococcus aureus (MRSA)
a.     Vankomisin
b.    Teikoplanin
c.     Linezolid
5.     Hemophilus influenzae
a.     TMP-SMZ
b.    Azitromisin
c.     Sefalosporin gen. 2 atau 3
d.    Fluorokuinolon respirasi
6.     Legionella
a.     Makrolid
b.    Fluorokuinolon
c.     Rifampisin

Komplikasi yang dapat terjadi :
  • ·         Efusi pleura.
  • ·         Empiema.
  • ·         Abses Paru.
  • ·         Pneumotoraks.
  • ·         Gagal napas
  • ·         Sepsis



Tidak ada komentar: