4 Februari 2013

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

PPOK merupakan salah satu gangguan pernapasan yang akan semakin sering dijumpai di masa mendatang di Indonesia, mengingat makin bertambahnya rerata umur orang Indonesia, bertambahnya jumlah perokok dan bertambahnya polusi udara.


DEFINISI
PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema atau gabungan keduanya. Bronkitis kronis adalah kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut, tidak disebabkan penyakit lainnya. Emfisema adalah kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.

FAKTOR RISIKO
Kebiasaan merokok merupakan satu-satunya penyebab terpenting, jauh lebih penting dari penyebab lainnya. Penyebab lain adalah riwayat terpajan polusi udara (lingkungan dan tempat kerja), hipereaktiviti bronkus, riwayat infeksi saluran napas bawah berulang, defisiensi alfa-1 anti tripsin, jenis kelamin laki-laki dan ras (kulit putih lebih berisiko).

PATOGENESIS
Pada bronkitis kronis terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan dan distorsi akibat fibrosis. Pada emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal disertai kerusakan dinding alveoli. Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.  

DIAGNOSIS
Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga gejala berat. Diagnosis PPOK ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan yang terarah dan sistematis meliputi gambaran klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisis) dan pemeriksaan penunjang baik yang bersifat rutin maupun pemeriksaan khusus.

Anamnesis
·       Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan
·       Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
·       Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
·       Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, misalnya berat badan lahir rendah (BBLR), infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara
·       Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
·       Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi

Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan fisis pasien PPOK dini umumnya tidak ditemukan kelainan. Pada inspeksi didapatkan:
·  Purse-lips breathing, yaitu sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik  
·       Barrel chest (diameter toraks anteroposterior sebanding dengan diameter transversal)
·       Penggunaan otot bantu napas
·       Hipertrofi otot bantu napas
·       Pelebaran sela iga
·       Terlihat denyut vena jugularis dan edema tungkai (bila telah terjadi gagal jantung)

Pada emfisema pemeriksaan palpasi didapatkan sela iga melebar dan fremitus melemah; pemeriksaan perkusi terdengar hipersonor, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah dan hepar terdorong ke bawah

Pemeriksaan auskultasi didapatkan:
·       suara napas vesikuler normal atau melemah
·       terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa
·       ekspirasi memanjang
·       bunyi jantung terdengar jauh.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang rutin dikerjakan untuk menegakkan diagnosis PPOK adalah uji faal paru sedang pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, Leukosit) dan foto toraks untuk menyingkirkan penyakit paru lain. Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk memeriksa VEP1, KVP dan VEP1/KVP. VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. Disebut obstruksi apabila %VEP1 (VEP1/VEP1 prediksi) <80% atau VEP1% (VEP1/KVP) < 75%. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan, bisa dilakukan pemeriksaan APE (arus puncak ekspirasi), dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore tidak melebihi 20%.

DIAGNOSIS BANDING
1.   Asma
2.   SOPT (sindroma obstruksi pascatuberkulosis)
3.   Pneumotoraks
4.   Gagal jantung
5.   Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lainnya misalnya bronkiektasis, destroyed lung dll.

Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di Indonesia, karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena terapi dan prognosisnya berbeda.


Asma
PPOK
Timbul pada usia muda
++
-
Sakit mendadak
++
-
Riwayat merokok
+/-
+++
Riwayat atopi
++
+
Sesak dan mengi berulang
+++
+
Batuk kronik berdahak
+
++
Hipereaktiviti bronkus
+++
+
Reversibiliti obstruksi
++
-
Variabiliti harian
++
+
Eosinofili sputum
+
-
Neutrofil sputum
-
+
Makrofag sputum
+
-

PENATALAKSANAAN
PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel, sehingga penatalaksanaan PPOK terbagi atas penatalaksanaan pada keadaan stabil dan penatalaksanaan pada eksaserbasi akut.Tujuan umum penatalaksanaan PPOK adalah untuk mengurangi gejala, mencegah eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru serta meningkatkan kualiti hidup penderita. Penatalaksanaan meliputi edukasi, obat-obatan, terapi oksigen, ventilasi mekanik, nutrisi dan rehabilitasi.

Edukasi
Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Tujuan edukasi adalah supaya pasien PPOK mengenal perjalanan penyakit, melaksanakan pengobatan yang maksimal, mencapai aktiviti optimal dan meningkatkan kualiti hidup.

Obat-obatan
·     Bronkodilator diberikan secara tunggal atau kombinasi sesuai dengan klasifikasi derajad beratnya penyakit. Diutamakan bentuk obat inhalasi, nebulisasi tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting)
·   Ekspektoran dan mukolitik. Air minum adalah ekspektoran yang baik, pemberian cairan yang cukup akan mengencerkan sekret. Obat ekspektoran dan mukolitik dapat diberikan terutama pada saat eksaserbasi. Antihistamin secara umum tidak diberikan karena dapat menimbulkan kekeringan saluran napas sehingga sekret sukar dkeluarkan
·       Antibiotik diberikan bila ada infeksi sehingga dapat mengurangi keadaan eksaserbasi akut.
·    Antioksidan dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kialiti hidup, digunakan N-asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering, tidak dianjurkan sebagai terapi rutin.
·       Kortikosteroid pemberiannya masih kontroversial, hanya bermanfaat pada serangan akut.
·       Antitusif diberikan dengan hati-hati.

Terapi oksigen
Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan sel dan jaringan. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya. Terapi oksigen bermanfaat untuk mengurangi sesak napas, hipertensi pulmoner, vasokonstriksi pembuliuh darah paru, hematokrit dan memperbaiki kualiti dan fungsi neuropsikologik.

Ventilasi mekanik
Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut, gagal napas akut pada gagal napas kronik atau pada pasien PPOK derajat berat dengan gagal napas kronik. Ventilasi mekanik dapat digunakan di rumah sakit di ruang ICU atau di rumah Ventilasi mekanik dapat dilakukan dengan intubasi maupun tanpa intubasi.

Ventilasi mekanik tanpa intubasi  digunakan pada PPOK dengan gagal napas kronik dan dapat digunakan selama di rumah. Bentuk ventilasi mekanik tanpa intubasi adalah NIPPV (noninvasive intermitten positive pressure) atau NPV (negative pressure ventilation). NIPPV bila digunakan dengan terapi oksigen terus menerus (LTOT/long term oxygen therapy) akan memberikan perbaikan bermakna pada AGD, kualitas dan kuantitas tidur serta kualiti hidup. NIPPV dapat diberikan dengan tipe ventilasi volume control, pressure control dan BiPAP (bilevel positive airway pressure) dan CPAP (continuous positive airway pressure).

Ventilasi mekanik dengan intubasi. Pasien PPOK dipertimbangkan untuk menggunakan ventilasi mekanik di rumah sakit bila ditemukan keadaan sebagai berikut:
-     Gagal napas yang pertama kali
-     Perburukan yang belum lama terjadi dengan penyebab yang jelas dan dapat diperbaiki (misalnya pneumonia)
-     Aktivitas sebelumnya tidak terbatas.
Ventilasi mekanik sebaiknya tidak dilakukan pada pasien PPOK dengan kondisi sebagai berikut:
-     PPOK derajat berat yang telah mendapat terapi maksimal sebelumnya
-     Terdapat ko-morbid yang berat, misalnya edema paru, keganasan
-     Aktiviti sebelumnya terbatas meskipun terapi sudah maksimal

Nutrisi
Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi hipermetabolisme. Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK karena berkolerasi dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah. Mengatasi malnutrisi dengan pemberian makanan yang agresif tidak akan mengatasi masalah, karena gangguan ventilasi pada PPOK tidak dapat mengeluarkan CO2 yang terjadi akibat metabolisme karbohidrat. Komposisi nutrisi yang seimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat. Kebutuhan protein seperti pada umumnya, protein dapat meningkatkan ventilasi semenit oxigen comsumption dan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapni. Tetapi pada PPOK dengan gagal napas kelebihan pemasukan protein dapat menyebabkan kelelahan. Diperlukan keseimbangan antara kalori yang masuk dengan kalori yang dibutuhkan. Dianjurkan pemberian nutrisi dengan komposisi seimbang, yakni porsi kecil dengan waktu pemberian yang lebih sering, bila perlu nutrisi dapat diberikan secara terus menerus (nocturnal feedings) dengan pipa nasogaster.

Rehabilitasi
·       Fisioterapi bertujuan memobilisasi sputum dan membuat pernapasan lebih efektif serta mengembalikan kemampuan fisik penderita ke tingkat optimal.
·       Rehabilitasi psikis. Penderita PPOK sering merasa tertekan dan cemas sehingga perlu pendekatan psikis untuk mengurangi perasaan tersebut.
·       Rehabilitasi pekerjaan,. Menganjurkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

KOMPLIKASI PPOK
·       Pneumotoraks spontan sekunder
·       Infeksi paru
·       Gagal napas.

Anjuran bacaan:
1. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), update 2013
2. GOLD Pocket Guided, update 2013


49 komentar:

syamsul alam mengatakan...

saya sebegai penderita PPOK terdeteksi sejak nopember 2011,sejak saat itu memakai obat isap yaitu SPIRIVA,Alhamdulillah sy merasa enekan namun semenjak ASKES beralih ke BPJS obat tsbt sy dapatkan lg krn tdk ditanggung oleh BPJS.sekarang ini sy mengalami sesak napas krn tdk ada lg obat.syamsul alam gowa sulsel

Klik Paru mengatakan...

Salah satu tatalaksana PPOK adalah pengobatan dengan pelonggar napas kerja lama. Obat yang tersedia di Indonesia saat ini adalah Tiotropium bromide (Spiriva) dan Indacaterol (Onbrez). Sementara obat tersebut belum didukung (oleh BPJS), sebaiknya bapak tetap menggunakan obat pelonggar napas lain. Bapak bisa konsultasi ke dokter (kalau memungkinkan dokter paru) untuk menentukan obat yang paling tepat sebagai pengganti Tiotropium. Terima kasih atas komentarnya.

tanti wulandari mengatakan...

Kalo obat obucort swinghaler dgn spiriva bagus mana ya?

Klik Paru mengatakan...

Tidak bisa dibandingkan, karena penggunaannya untuk tujuan yang berbeda. Obucort (budesonide 200 ug/dosis) merupakan obat pengontrol untuk penyakit asma, sedang Spiriva (Tiotropium bromide 18 ug/caps) merupakan obat pelega napas untuk PPOK. Terima kasih atas kunjungannya

dini nazzara mengatakan...

Ayah sya di diagnosa PPOK sejak Juli 2013,,, dan sejak saat itu ketergantungan oksigen... spiriva dan obat lainnya... maret 2014 kondisinya smkin memburuk.. oksigen tdk lagi bnyak membantu... setiap hari 3 - 4 kali harus di nebu... bagaimana membaikan kondisi ini... berapa maksimal penggunaan nebu dalam sehari....

irwan j mengatakan...

Kenapa dokter paru saya bilang saya kena ppok sedangkan sebelumnya dokter deteksi asma. Apakah asma yang lama akan membuat jadi ppok? Saya tidak pernah merokok.

Klik Paru mengatakan...

Mbak Dini, fungsi paru seseorang mencapai puncaknya pada umur 20-30 tahun, setelah itu fungsinya perlahan-lahan akan menurun. Seorang dengan PPOK, penurunan fungsi paru akan lebih cepat. Apalagi bila sering terjadi infeksi saluran napas atas/bawah dan tidak segera diobati sampai sembuh. Karena bekerja lokal, obat nebu jauh lebih aman dan bisa diberikan berkali-kali dalam sehari. Namun bila dalam sehari sudah diberikan sekitar 6 kali dan tidak ada perbaikan yang berarti, sebaiknya konsultasi dokter untuk dievaluasi.

Klik Paru mengatakan...

Pak Irwan, meskipun penyebab dan mekanisme terjadinya asma dan PPOK berbeda, namun gejala dan keluhan kedua penyakit ini seringkali mirip. Apalagi kalau informasi yang disampaikan pasien terbatas dan dokter tidak bisa melakukan pemeriksaan penunjang. Sebagian besar penyebab PPOk memang asap rokok, namun bisa juga karena polusi udara lain dan faktor genetik (kekurangan enzim alfa-1 antitripsin).

Anonim mengatakan...

Saya Sukamto, umur 63 thn, alamat Jln Pemuda Gang Melati II No. 37 Kendal, JawaTengah. Awal tahun 2012 saya di diagnose PPOK, diberikan obat hisap Spiriva 1 kali hisap sehari sehari, dan seretide diskus 250 mcg 2 kali hisap sehari. Dengan obat ini saya merasa enjoy-enjoy saja. Bulan Maret 2014 saya di spirometri hasilnya normal, sehingga seretide dihentikan diganti dengan berotec (dihisap bila terjadi serangan/sesak napas). Dengan hanya Spiriva ini hasilnya tidak memuaskan, sering sesek danharus hisap berotec. Bulan Aprilini kami kembali diberikan Seretide 500 mcg, hasilnya kembali enjoy-enjoy saja. Pertanyaannya. 1. Apa bedanya Spiriva dengan seretide? 2. Apa obat seharusnya bagi pasien PPOK, (mengapa kami harus hisap spiriva dan seretide)?. 3.. Dengan hanya spiriva ternyata masih sesek, bagaimana kalau hanya dengan seretide (efeknya terhadap PPOK).

Klik Paru mengatakan...

Bapak Sukamto yg baik, pengobatan umum PPOK adalah menghindari faktor pencetus, pelonggar napas kerja singkat bila diperlukan (misalnya Berotec, Ventolin, Meptin, dll), dan vaksinasi influenza. Pada derajad yang lebih berat kadang diperlukan obat pelonggar napas kerja lama (misalnya Spiriva, Onbrez, dll). Pada sebagian pasien responsnya lebih bagus bila ditambah dengan kombinasi obat pelonggar napas kerja lama plus steroid (misalnya Seretide, Symbicort, dll). Salah satu tujuan pengobatan PPOK adalah mengirangi gejala. Tujuan tersebut bisa dicapai tanpa obat, dengan satu macam obat atau kadang lebih. Yang penting tujuan pengobatan tercapai dengan obat yang aman sehingga kualitas hidup meningkat. Semoga keterangan ini berguna, terima kasih.

coky scooterist mengatakan...

PPOK apa bedanya sama bronkitis/KP mas,,,,saya heran ko tiap pagi batuk dahak bening mulu yahh,tapi pas agak siangan,ngilang tuh batuk !!
trus berat badan saya 53.kg dari dulu ga naek"bingung saya mas ??
penyakit atau bukan sih ??
mohon pencerahanya nyaa :D

Klik Paru mengatakan...

Ketiga penyakit tersebut berbeda. PPOK adalah kelainan paru yang menyebabkan hambatan aliran udara yang perjalanannya progresif irreversibel atau reversibel parsial, Penyebabnya adalah merokok, polusi lingkungan, infeksi saluran napas bawah berulang dll. Bronkitis akut adalah infeksi saluran napas karena kuman, virus, dan jamur. Bronkitis yang berulang-ulang atau bronkitis kronis bisa menjadi PPOK. KP adalah sebutan lain untuk TB paru atau TBC paru.

Agustinadian Susanti mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Agustinadian Susanti mengatakan...

apakah sakit PPOK ini harus minum obat seumur hidup dok? ayah saya 79 th sakit PPOK dan diberi obat salbutamol 3x1/2tab, aminophilin 3x1/2 tab dan menghisap seretide diskus 2xsehari

klik Paru mengatakan...

Ya, diminum seumur hidup agar penurunan fungsi paru bisa direm selambat mungkin. Karena dikonsumsi jangka panjang, sebaiknya obat minum (salbutamol, aminofilin, dll) hanya digunakan sebagai pilihan terakhir. Pilihan pertama adalah obat2 yang hanya bekerja lokal di paru, seperti tiotroprium (Spiriva) dan indacaterol (Onbrez)

Agustinadian Susanti mengatakan...

spiriva ditanggung BPJS ga?

Achmed Fawzi mengatakan...

Dokter, ibu saya terdiaknosa kena PPOK, ada jalan gak selain konsumsi banyak obat

Klik Paru mengatakan...

Diagnosis PPOK sebaiknya berdasarkan pemeriksaan Spirometri, selain memastikan ada tidaknya PPOK juga bisa diketahui derajat keparahan PPOK. Jika ibunda hanya menderita PPOK, biasanya hanya menggunakan satu atau dua macam obat hirup yang digunakan jangka panjang. Sengaja dipilih obat hirup agar bisa bekerja optimal di saluran napas dan tidak mengganggu organ lain. Obat-obat lain bisa saja diberikan (jangka pendek) sesuai dengan keluhan yang dirasakan. Hal lain selain obat yang perlu diperhatikan adalah nutrisi yang baik dan olahraga sesuai kondisi ibunda.

Anonim mengatakan...

Ayah saya didiagnosis PPOK sejak tahun 2011, sejak saat itu beliau rutin mengkonsumsi obat dan rutin cek ke dokter, update terakhir menyatakan bahwa paru2 ayah saya memanjang sekitar 2 iga sejak terakhir diperiksa. Pertanyaan saya apakah paru-paru yang memanjang ini merupakan phase PPOK? dan sejauh mana phase fatal untuk penderita PPOK?
Terima kasih sebelumnya .
Maly

Anonim mengatakan...

dulu saya di agnosa broncitis cronis setelah 5 tahun saya periksa lagi ternyata saya di diagnossa terkena empisema,apakah empisema penyakit yang lebih berat dari pada broncitis cronis,atau apakah empisema peningkatan dari broncitis cronis.

Atinto Lagarusu mengatakan...

8 bulan lalu ayah saya di diagnosis dokter menderita tbc hanya lewat hasil rontgen,krn ayah saya batuk berdahak tapi susah keluar dahaknya.selama 8 bulan ini di terapi dgn rimstar/rifampicin dan obat lainnya,tapi setelah melihat hasil rontgen yang ke 3,kata dokter ayah saya menderita ppok.apakah ppok dengan tbc itu penyakit yg sama?apakah ppok bisa menular dok??

Klik Paru mengatakan...

Anonim: bronkitis kronis dan emfisema adalah penyakit yang berbeda, meskipun keduanya berperan untuk terjadinya PPOK. Namun ada keadaan yang merupakan kombinasi (overlaping) kedua penyakit tersebut, kemungkinan Anda dalam kelompok tersebut.

Atinto Lagarusu: Beda, TBC adalah penyakit akibat kuman yang ditulari pasien lain, sedang PPOK adalah kelainan struktur paru, sering disebabkan oleh polusi udara (terutama asap rokok). PPOK tidak menular.

ligia faculto mengatakan...

apakah ada jenis jenis PPOK

Klik Paru mengatakan...

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, PPOK dibedakan berasal dari bronkitis kronik dan emfisema yang menyebabkan sesak napas. Akhir-akhir ini muncul istilah baru yaitu ACOS (asthma COPD overlap syndrome) yaitu suatu keadaan yang merupakan kombinasi asma dan PPOK.

Anonim mengatakan...

Apkah ppok bisa mnyebabkan gagal jantung ?

petrus kamiar mengatakan...

Dok saya dulu di diagnosa dokter sepesialis penyakit dalam tahun 2014 terkena penyakit PPOK. Padahal umur saya waktu itu baru 21 tahun, apakah penyakit ini berbahaya dok. Soalnya saya mengikuti terapi dengan obat selama 6 bulan tapi belum sempat tuntas. Apa efek terapi penyakit PPOK yg tidak tuntas ? apakah berbahaya dok ?

Klik Paru mengatakan...

Anonim: salah satu komplikasi PPOK adalah terjadinya Korpulmonale, yaitu gangguan struktur dan fungsi ventrikel kanan akibat kelainan primer di paru. Korpulmonale yang tidak terkontrol bisa menyebabkan gagal jantung kanan.

Petrus Kamiar: PPOK biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun dengan riwayat polusi udara (terutama rokok) sebelumnya. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada umur yang lebih muda, biasanya PPOK karena defisiensi alfa 1 anti tripsin.
Pengobatan PPOK biasanya jangka panjang (seumur hidup) dengan obat hirup. Bila pengobatan selama 6 bulan dengan obat minum, kemungkinan bukan PPOK (TB?)

Anonim mengatakan...

dok, saya wanita usia 21 tahun. saya pernah didiagnosa bronkitis kronis pada usia 16 tahun (tahun 2011), menurut dokter saya dulu penyebabnya asap rokok (karena ayah saya perokok) dan karena waktu usia 16 tahun, rumah saya sedang di renov sehingga banyak debu.

saat pertama kali didiagnosis, yang saya rasakan ada demam sangat tinggi, benar-benar tidak mampu bernafas, suara ngik2, dan gejala bronkitis pada umumnya.

yang saya sayangkan dok, kenapa sudah slama 5 tahun ini (2011-2015), bronkitis saya sering sekali kambuh walau gejalanya tidak separah seperti pertama kali di diagnosa.

saya kurang mengerti kenapa sering kambuh dok. yang jelas, jika ada orang flu di sekitar saya, pasti saya langsung tertular dan bronkitis kumat lagi. tidak ada yang flu pun sering kumat dok.

biasanya diawali dengan radang tenggorokan, flu, meler dan batuk kering, lalu di hari ketiga biasanya langsung demam di sore hari, pusing, dada berat dan batuk dahak kental kuning kehijauan.

saya lelah dok jika terus2an seperti ini, masalahnya selalu kambuh SEBULAN SEKALI (saya selalu mencatat kapan kambuh) padahal saya sudah mencoba mengurangi kegiatan di luar rumah dan rajin berolahraga ringan. kebetulan sudah 3,5 tahun saya tidak tinggal lagi bersama ayah saya yang perokok.

biasanya bronkitis saya yang diawali gejala flu seperti ini bisa sembuh paling cepat 3 minggu dok :(

adakah solusi untuk saya? saya sudah bosan ke dokter tp tetap tidak pernah ada hasil memuaskan. ketika saya rotgen, dokter bilang paru2 saya tidak ada masalah, ketika saya pindah ke dokter lain, paru2 saya dikatakan infeksi.

yang paling saya khawatirkan adalah ketika nanti saya menikah dan hamil, masa setiap bulan sakit begini terus dok? kasian calon bayi saya..

terimakasih dok.

Abel Mahadika mengatakan...

Selain diberi obat, saya sarankan juga untuk melakukan therapi seperti breathing exercise, breathing control, postural drainase, coughing exercise, huffing, FET, ekspansi thorax, purse lips breathing exercise, nebulizer/hidrasi yang mana tujuannya dapat meningkatkan volume paru, menurukan beban kerja pernapasan, pengeluaran sputum,meningkatkan ADL, dll. Therapy semacam ini biasanya dilakukan oleh prefesi fisioterapi yang khusus menangani dibidang kardiorespirasi dan pulmonal/pernapasan.

Klik Paru mengatakan...

keluhan anda termasuk dalam kelompok penyakit batuk kronik berulang. Saya sarankan konsultasi ke dokter spesialis paru, kemungkinan akan diperiksa kultur sputum dan spirometri (dan lainnya). Kalau belum ada kemajuan, bisa juga konsultasi ke dokter spesialis THT.

Mala mengatakan...

Dok, apakah tidak semua bronkhitis kronis itu PPOK? Apakah PPOK merupakan lanjutan nya? Ibu saya sekitar 6 thn yll bronkhitis dan dirawat. 3 bln yll beliau dirawat lg karena bronkhitis kronis. Saat ini beliau sudah beraktivitas seperti biasa. Tp dokter paru yg menanganinya tidak menyuruh ibu saya minum obat seumur hidup. Ibu saya hanya diminta kontrol selama 3 bulan. Setelah itu boleh kontrol setahun sekali. Itupun tidak diberi obat yg dihirup. cm obat2an yg diminum. Itu bagaimana ya dok? Apakah boleh penderita bronkhitis kronis tidak meminum obat dlm jangka waktu setahun?

Mala mengatakan...

Dok, apakah tidak semua bronkhitis kronis itu PPOK? Apakah PPOK merupakan lanjutan nya? Ibu saya sekitar 6 thn yll bronkhitis dan dirawat. 3 bln yll beliau dirawat lg karena bronkhitis kronis. Saat ini beliau sudah beraktivitas seperti biasa. Tp dokter paru yg menanganinya tidak menyuruh ibu saya minum obat seumur hidup. Ibu saya hanya diminta kontrol selama 3 bulan. Setelah itu boleh kontrol setahun sekali. Itupun tidak diberi obat yg dihirup. cm obat2an yg diminum. Itu bagaimana ya dok? Apakah boleh penderita bronkhitis kronis tidak meminum obat dlm jangka waktu setahun?

Ahmad Fauzul Ghufron mengatakan...

kalo sering Naik sepeda malam tanpa memakain Jaket bisa menjadi salah satu faktor penyakit Paru-paru tidak dok ,,?

Klik Paru mengatakan...

Mala: benar, tidak semua bronkitis kronis itu PPOK. Bila ada gambaran bronkitis pada foto dada namun tidak ada keluhan sesak napas (bisa dipastikan dengan pemeriksaan spirometri dengan hasil normal) maka pengobatannya hanya sebatas bronkitis kronis, tidak seperti PPOK yang seumur hidup.

Ahmad Fauzi Ghufron: Bila bersepeda malamnya kadang-kadang, cuaca lagi bagus dan kondisi tubuh fit ya nggak apa. Namun bila rutin sebaiknya mengenakan jaket dan bila perlu masker.

Adi mengatakan...

Dok mau tanyak, kenapa ppok seringnya terjadi pada usia tua ya? Kalo iya, bearti yang muda aman dengan ppok ya. Terimakasih

Vini Hadyanti mengatakan...

Dok,ayah saya punya penyakit PPOK.. Pertanyaan saya apa penyakit ini menular dok?
Terimakasih

Klik Paru mengatakan...

Vini Hadyanti: PPOK tidak menular. Sebagian besar penyakit ini terjadi karena polusi lingkungan, terutama asap rokok (baik aktif maupun pasif)

Ridho Rizki Piliang mengatakan...

Dok. Saya umur 19th. Dan skrg lg di opname. Kata dok. Sy terkena PPOK dan yg disebut dikomen yg diatas. Tpi sya dsni dbri antibiotik levofloksin infus, amino fluid infus, infus biasa, obat batuk, suntik, dan dexa dpd putih kecil. Tpi yg sya rsakn, dada berat, kepala berat, perut mual, pucat, kebes, keringat tangan n kaki, merinding pinggang, bab agak hitam. Adakah itu parah dok ? Bisakah saya pulih ? Brp lama sya harus diopname ? Bagus terapi atau opname dok ?

Ahmad Subagyo mengatakan...

Ridho: Penyebab PPOK yang paling sering adalah polusi udara lingkungan, terutama asap rokok dalam waktu yang lama. Karena itu PPOK jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Tampaknya saat ini Anda lagi diserang infeksi sehingga diobati dengan antibiotik. Setelah sembuh dan pulang rawat, saran periksa spirometry untuk memastikan Anda terkena PPOK atau penyakit lainnya.

Dzulfikar mengatakan...

Artikel yang snagat bermanfat sekali buat saya dan menambah ilmu saya dan teman"semua.
Semoa saya, keluarga saya tidak terkena penyakit ini amin ... :)

Tri retno mengatakan...

Dok mau tanya ini saya positif ppok..apakah bisa d sembuhkan dok..trus apa saya harus keluar dari pekerjaan saya sekarang ..karena saya sekarang bekerja d pabrik pemintalan..trus setiap bulanya sering kambuh..demam dan bdan lemas...terima kasih

Ahmad Subagyo mengatakan...

Tri Retno: PPOK dicurigai bila ada keluhan sesak, disertai riwayat polusi udara (rokok, asap dapur, asap kendaraan dll)dan sebab lainnya. Penyakit ini ditegakkan dengan pemeriksaan spirometri. Karena penyebabnya polusi udara, sebagian besar PPOK bisa dicegah. Dengan pengobatan yang tepat, PPOK bbisa dicegah untuk menjadi lebih berat, pada sebagian pasien keluhan sesak menjadi sangat minimal. Sebaiknya dipastikan dulu apakah keluhan tersebut pasti akibat PPOK, bukan yang lain. Apakah masih mungkin dibantu obat dan Anda menggunakan APD (alat pelindung diri) seperti masker. Bila masih gagal, ganti pekerjaan yang lebih aman merupakan pilihan.

novella silalahi mengatakan...

hi dok, ayah saya di diagnosa ppok awal january 2013 dan selama ini ayah saya memakai oxygen therapy dan juga minum obat seperti spriva, nebu dan lain2. dok, tapi keadaanya menurubn 3 bulan terkahir ini dan dokter mengatakan dia harus pakai alat respirocnic yang dari philips untuk menekan co2 nya keluar.... karena co2nya kisaran di 70 and dok klo sesak. ayah saya sering sekali merasa lemas dan keluar masuk rumah sakit padahal sudah memakai alat tsb. saya bingung dok therapy apa lagi yg ayah saya harus lakukan agar dia bisa pulih kembali dan tidak gampang capek. saat ini dia berumur 64 tahun dok, terimakasih.

Ahmad Subagyo mengatakan...

Novella: fungsi napas manusia mencapai puncaknya pada usia 20-30 tahun, setelah itu pelan-pelan akan makin menurun sesuai dengan bertambahnya umur. Pada PPOK grafik penurunannya akan lebih tajam. Pedoman penatalaksanaan umum adalah menjaga kesehatan denagn baik, hindari polusi udara (termasuk asap rokok, rutin olah raga (sesuai kemampuan, menjaga kecukupan nutrisi dan konsumsi obat sesuai derajat penyakit. Sekarang sudah lahir obat-obat generasi baru dan sebagian dikemas sebagai kombinasi dua obat. Silahkan konsultasi dengan dokter spesialis Paru dan Respirasi untuk mendapatkan obat yang sesuai.

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dian Arini mengatakan...

Pak Dokter, saya Dian dari Bogor

Pak Dokter, bila fungsi napas manusia mencapai puncaknya pd usia 20-30 thn, maka apakah sebaiknya pada usia tsb manusia membangun kekuatan paru.paru sehat seoptimal mungkin, spt dg berolah raga rutin, konsumsi nutrisi bergizi, hindari asap polutan, dsb, krn di masa pasca 30 thn berbagai upaya di atas (spt olah raga rutin dll) lebih ke arah meminimalisir atau memperlambat penurunan fungsi paru.paru?

Mohon pencerahan, Pak Dokter.
Trims

Ahmad Subagyo mengatakan...

Dian Arini: Tepat sekali, akan lebih bagus lagi kalau kebiasaan tersebut diteruskan pada umur yang lebih tua. Tentunya dengan intensitas yang sesuai dengan kemampuan.

Anonim mengatakan...

Saya mau tanya dok. Saat ini usia saya 25 tahun. Dan saya juga mengidap penyakit asma. saya pun perokok.

Begini dok. 1 minggu lalu saya mengalami pilek parah, demam, sesak napas. Namun saat sakit itu saya tetap merokok. Sekarang setelah sembuh kok rasanya saluran pernapasan saya menyempit. bahkan untuk menguap pun tidak plong. saya pun juga tidak bisa sering menarik napas panjanh seperti biasany dan dada kanan saya agak nyeri. saya juga agak batuk berdahak dan saya merasa di dada saya ini banyak lendirnya.

apakah yang saya alami ini dok?

Ahmad Subagyo mengatakan...

Saluran napas kita diciptakan untuk dilewati oleh udara wajar, tidak terlalu kotor dan tidak terlalu panas. Asap rokok adalah udara yang sangat kotor dan sangat panas, wajar kalau saluran napas kita jadi bermasalah. Apalagi kalau saat merokok kita dalam kondisi sakit tenggorokan. Saya yakin Anda sudah tahu solusi terbaiknya.