2 September 2014

Prosedur bronkoskopi

Bronkoskopi merupakan salah satu jenis pemeriksaan endoskopi, berguna untuk memeriksa trakea, bronkus dan cabang-cabangnya secara visual. Alat untuk memeriksa bronkoskopi (disebut bronkoskop), secara teknis mirip dengan alat endoskopi lainnya seperti gastroskopi, kolonoskopi, laringoskopi dan lain-lain. Bronkoskopi bisa digunakan untuk diagnosis, terapi, dan kadang untuk keduanya.


Ada dua tipe bronkoskop yaitu kaku (rigid) dan lentur (fleksibel). Penggunaan bronkoskop kaku hanya bisa dilakukan di ruang operasi dalam anestesi umum, sedang bronkoskop lentur bisa juga di kerjakan di ICU atau ruangan endoskopi, dan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan bronkoskop kaku. Tulisan ini akan membahas bronkoskop lentur

Bronkoskop terdiri atas bagian kaku untuk dipegang dan bagian lentur sepanjang 50-60 cm. Pada bagian kaku terdapat lensa atau monitor untuk melihat gambar, tuas jempol untuk mengubah ujung lentur menjadi fleksi atau ekstensi, katup penghisap yang diaktifkan dengan jari, pintu untuk memasukkan instrumen, dan tempat untuk menyambung selang penghisap. Visualisasi saluran napas ke monitor melalui serat optik. Agar lampu di ujung bagian lentur bisa menyala, bronkoskop harus dihubungkan dengan sumber cahaya.

Prosedur bronkoskopi bisa dilakukan melalui hidung, mulut, melalui saluran endotrakeal atau lubang trakeostomi. Skop fleksibel bisa memperlihatkan visualisasi saluran napas lebih jauh dibandingkan skop kaku karena skop lentur bisa masuk ke percabangan bronkus ketiga atau keempat. Alat bronkoskopi mudah dipindahkan (portabel), bisa dilakukan ditempat tidur pasien sehingga bisa meminimalkan risiko pasien yang berisiko bila dipindahkan.

Selama prosedur bronkoskopi semua anggota tim mengenakan masker, pelindung mata dan sarung tangan. Baju pelindung sebaiknya juga dikenakan. Pasien disiapkan dengan puasa 6 jam. Jika pasien mendapatkan nutrisi enteral dengan NGT nasogastric tube, duodenal atau jejunal, tahan nutrisi enteral satu jam sebelumnya. Untuk kehati-hatian, bisa dilakukan aspirasi lambung (pada pasien dengan NGT) sebelum prosedur bronkoskopi dilakukan. Informasikan kepada pasien langkah-langkah prosedur yang akan dilakukan sehingga pasien akan kooperatif selama prosedur bronkoskopi. Pemeriksaan laboratorium tentunya sudah dilakukan, termasuk studi koagulasi bila direncanakan biopsi. 

Sebelum prosedur dimulai, pastikan semua alat dan material pendukung telah siap, termasuk obat-obatan. Diazepam dan midazolam mempunyai keuntungan tambahan, membuat pasien amnesia terhadap kejadian yang dialaminya. Pastikan pasien terpasang akses intravena untuk pemberian obat dan cairan bila diperlukan.

Pasien harus dipantau selama dan setelah prosedur bronkoskopi untuk mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi seawal mungkin. Pemantauan setidaknya meliputi pulse oximetry, EKG, pemantauan denyut jantung dan tekanan darah. Operator bronkoskopi tentu perhatiannya tertuju pada prosedur, karena itu asisten operator bertanggung jawab memantau keadaan pasien dan menginformasikan bila terjadi masalah pada pasien. Setelah prosedur, pasien harus dipantau sampai pengaruh obat biusnya hilang baik itu anestesi umum maupun anestesi lokal. Bila dilakukan biopsi, munculnya darah dalam dahak yang makin banyak menandakan timbulnya perdarahan.

Sumber: lung expantion therapy and bronchial hygiene. In: Pierce LNB. Guide to mechanical ventilation and intensive respiratory care. WB Saunders Co. 1995.p. 143-46

Tidak ada komentar: