23 Februari 2013

TERAPI OKSIGEN

Oksigen pertama kali ditemukan oleh Yoseph Prietsley di Bristol Inggris tahun 1775 dan dipakai dalam bidang kedokteran oleh Thomas Beddoes sejak awal tahun 1800. Tujuan terapi oksigen adalah untuk memperbaiki dan mencegah keadaan hipoksemia, sehingga hipoksia jaringan dapat dicegah dan dihindari. Hipoksemia dapat diatasi dengan meningkatkan fraksi oksigen inspirasi.


HIPOKSEMIA
Hipoksemia adalah suatu keadaan terjadinya penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi oksigen dalam arteri (SaO2). Nilai normal PaO2 85 – 100 mmHg dan SaO2 > 95%. Hipoksia adalah penurunan sejumlah oksigen yang terdapat dalam jaringan tanpa memperhatikan penyebab dan lokasi. Berdasarkan nilai PaO2 dan SaO2, hipoksemia dibedakan menjadi ringan (PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 90-94%), sedang (PaO2 40-60 mmHg dan SaO2 75-89%) dan berat (PaO2 < 40 mmHg dan SaO2 <75%). Hipoksemia dapat disebabkan oleh gangguan ventilasi-perfusi, hipoventilasi, pirau, gangguan difusi dan berada di tempat yang tinggi.

Patofisiologi hipoksemia
Hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi  yang bertujuan untuk mempertahankan agar oksigenasi ke jaringan  memadai. Bila tekanan oksigen arterial  (PaO2) di bawah 55 mmHg, kendali napas akan meningkat sehingga tekanan oksigen arterial  juga meningkat dan sebaliknya tekanan karbondioksida arteri menurun. Pembuluh darah yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, selain itu juga terjadi takikardi yang akan meningkatkan volume sekuncup jantung sehingga oksigenasi jaringan dapat diperbaiki. Hipoksia alveoler menyebabkan kontraksi pembuluh darah pulmoner sebagai respons untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area paru yang terganggu, kemudian akan terjadi peningkatan sekresi eritropoetin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis dan  terjadi peningkatan kapasitas transfer oksigen. Kontraksi pembuluh darah pulmoner, eritrositosis dan peningkatan volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner, gagal jantung kanan bahkan dapat menyebabkan kematian.

 Tujuan terapi oksigen
Tujuan umum terapi oksigen adalah untuk mencegah dan memperbaiki hipoksia jaringan, sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mendapatkan PaO2 lebih dari 90 mmHg atau SaO2 lebih dari 90%. Besarnya fraksi oksigen inspirasi (FiO2) yang didapatkan paru sesuai dengan volume oksigen yang diberikan pada pasien dapat dilihat pada tabel berikut.

Alat
Aliran (l/mnt)
FiO2 (%)
Kanula nasal
1
0,24

2
0,28

3
0,32

4
0,36

5
0,40

6
0,44
Masker oksigen
5-6
0,40

6-7
0,50

7-8
0,60
Masker dengan kantong udara
6
0,60

7
0,70

8
0,80

9
≥ 0,80

10
≥ 0,80

INDIKASI TERAPI OKSIGEN
Beberapa kondisi harus dipenuhi sebelum melakukan terapi oksigen yaitu diagnosis yang tepat, pengobatan optimal dan indikasi, sehingga terapi oksigen akan dapat memperbaiki keadaan hipoksemia dan perbaikan klinik. Kriteria pemberian terapi oksigen dapat dilakukan sebagai berikut.
1.    Pemberian terus menerus, dilakukan apabila hasil analisis gas darah saat istirahat didapatkan nilai:
a.    PaO2 < 55 mmHg atau saturasi < 88%
b.    PaO2 antara 56-59 mmHg atau saturasi 89% disertai kor pulmonale atau polisitemia (Ht > 56%)
2.    Pemberian berselang, dilakukan apabila hasil analisis gas darah didapatkan nilai:
a.    Saat latihan PaO2 < 55 mmHg atau saturasi < 88%
b.    Saat tidur PaO2 < 55 mmHg atau saturasi < 88% disertai komplikasi seperti hipertensi pulmoner, somnolen dan aritmia

Pasien dengan keadaan klinik tidak stabil yang mendapatkan terapi oksigen perlu dievaluasi analisis gas darah setelah terapi untuk menentukan perlu tidaknya terapi oksigen jangka panjang.

METODE PEMBERIAN OKSIGEN
Oksigen diberikan dengan kanula nasal 2 l/mnt dapat meningkatkan fraksi oksigen inspirasi (FiO2) dari 21 menjadi 27%. Metode ini kurang efisien karena hanya oksigen yang mengalir pada awal inspirasi saja yang sampai di alveoli dan ikut proses pertukaran gas. Penggunaan kateter transtrakeal merupakan salah satu cara untuk mengurangi volume ruang rugi anatomik, sehingga oksigen yang diberikan bisa dosis kecil. Karena langsung melalui trakea maka akan mengurangi iritasi nasal, telinga dan fasial serta mencegah bergesernya alat tersebut saat tidur. Namun demikian perlu dipertimbangkan komplikasi yang mungkin terjadi yaitu emfisema subkutis, bronkospasme, batuk paroksismal, dislokasi kateter, infeksi di lubang trakea dan mucous ball yang bisa mengakibatkan keadaan menjadi fatal.

SISTEM PEMBERIAN OKSIGEN
Sistem pemberian oksigen yang dipakai untuk aliran terus menerus ada 3 macam yaitu oksigen dimampatkan bertekanan tinggi, oksigen cair dan oksigen konsentrat.
1.   Oksigen dimampatkan bertekanan tinggi. Oksigen disimpan dalam tabung metal bertekanan tinggi, aliran oksigen diatur dengan regulator. Macam-macam tabungnya adalah tabung H (244 cuft), tabung E (22 cuft) dan tabung D (13 cuft). Keuntungannya adalah murah, tersedia cukup banyak dan dapat disimpan lama. Kerugiannya adalah berat, kurang praktis dalam pengisian dan mudah meledak.
2.    Oksigen cair. Oksigen cair tidak bertekanan tinggi dan dapat disimpan dalam tempat tertentu dilengkapi dengan alat HCFA untuk mengubah oksigen cair menjadi gas sehingga dapat dihirup. Tempat penyimpanan, disebut dewar,  dapat menyimpan oksigen cair sampai suhu – 273 oF. Umumnya dewar berisi 100 pound oksigen yang habis dalam seminggu bila dipakai terus menerus dengan aliran 2 l/mnt. Oksigen cair lebih disukai daripada oksigen bertekanan tinggi karena tempat penyimpanannya lebih kecil, ringan dan mudah dibawa pergi. Kerugiannya lebih mahal dan pengisian kembali di pabrik yang sama.
3. Oksigen konsentrat. Sistem oksigen konsentrat didapat dengan mengekstraksiikan udara luar menggunakan metode molekuler sieve, oksigen diekstraksi sehingga dapat diberikan kepada pasien  dan nitrogen dibuang kembali ke udara luar. Alat ini dioperasikan secara elektrik. Keuntungannya cukup murah, tidak perlu penyimpanan khusus, sedang kerugiannya kurang portabel, bersuara dan perlu perawatan yang teratur.

RISIKO TERAPI OKSIGEN
Salah satu risiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. Hal ini dapat terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus menerus selama 1-2 hari. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN melepaskan enzim proteolitik dan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli, risiko lainnya adalah retensi gas CO2 dan atelektasis.

8 komentar:

Maunya Jujur mengatakan...

Saya pernah lihat di TV therapi oksigen seperti cuci darah..
fungsinya untuk menormalkan oksigen dalam darah..

Klik Paru mengatakan...

Mohon maaf belum bisa memberikan komentar, saya belum tahu apa yang Anda maksudkan. Terima kasih atas kunjungannya

Ahmad Subagyo mengatakan...

Cuci darah (hemodialisis atau peritoneal dialisis) berguna untuk menormalkan kembali darah yang kotor akibat kegagalan fungsi ginjal membuang kotoran tersebut. Yang mirip dengan fungsi tersebut adalah alat bantu napas mekanik (ventilator) yang salah satu fungsinya adalah membuang karbondioksida (CO2) yang kadarnya tinggi dalam darah akibat kegagalan fungsi respirasi.
Terapi oksigen bekerja sebaliknya, meningkatkan kadar oksigen dalam darah yang terlalu rendah akibat kegagalan fungsi respirasi mengambil oksigen. Terima kasih.

Qamariah mengatakan...

Mungkin yang dimaksud dengan terapi oksigen dengan alat seperti cuci darah adalah ECMO (extracorporeal membrane oxygenation). Biasanya dipakai pada ARDS (acute respiratory distress syndrome) bila penggunaan ventilator mekanik tidak membaik. Juga dipakai dalam operasi jantung paru yang memerlukan bantuan pertukaran gas artifisial. Prinsipnya alat ini bekerja diluar tubuh untuk melakukan pertukaran gas lewat membran buatan dan menambahkan suplai oksigen.

Ahmad Subagyo mengatakan...

Qomariah: Terima kasih atas komentarnya.

Denny Haryana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...

Nak tanya .. ap asessment yg kita lakukan terhadapap patient sebelum semasa dan selepas pemberian oxygen

Unknown mengatakan...

Nak tanya .. ap asessment yg kita lakukan terhadapap patient sebelum semasa dan selepas pemberian oxygen