28 Mei 2026

Pemeriksaan Gas CO pada Perokok

Walaupun sudah diketahui secara umum bahwa rokok dapat menimbulkan gangguan kesehatan, namun kebiasaan merokok sering ditemui di seluruh dunia. Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada saat ini terdapat sekitar 1 milyar perokok di dunia dan perokok aktif tersebut mengkonsumsi sekitar 6 triliun rokok setiap tahunnya. Sekitar 6 juta kematian akibat penggunaan tembakau beserta pajanan asap rokok terjadi setiap tahun yaitu meliputi 6% penyebab kematian pada perempuan dan 12 % penyebab kematian pada laki-laki. 

Merokok biasanya sebagai sumber utama pajanan karbonmonoksida (CO) pada tubuh manusia, walaupun sejumlah kecil pajanan CO juga dapat berasal dari asap kendaraan bermotor atau asap di tempat bekerja. Saat asap rokok terinhalasi, karbon monoksida akan menembus jaringan paru, masuk ke dalam aliran darah kemudian akan berikatan dengan hemoglobin untuk membentuk karboksi-hemoglobin (COHb) yang kadarnya dalam darah dapat diukur sebagai marker absorpsi asap rokok. Karbonmonoksida 200 kali lebih mudah mengikat hemoglobin dibanding oksigen. Seorang perokok berat memiliki kurang lebih 10% hemoglobin yang berikatan dengan gas CO sehingga menghalangi pengantaran oksigen di tubuh kita.

Alat pengukur gas CO
Karbon monoksida akan berada di dalam darah selama 24 jam setelah inhalasi asap rokok tergantung pada beberapa faktor seperti jenis kelamin, aktifitas fisik dan laju pernapasan. Selanjutnya CO dalam darah akan masuk kembali ke alveolus karena terdapat gradien konsentrasi di alveolus, sehingga CO yang terdapat dalam udara ekspirasi tersebut dapat diukur kadarnya dengan menggunakan alat pengukur CO portabel.

Terdapat beberapa biomarker yang dapat digunakan untuk menentukan status merokok pada seseorang yaitu diantaranya melalui pemeriksaan kadar nikotin, cotinine dan tiosianat dalam plasma, urin dan saliva, kadar COHb darah serta pemeriksaan kadar CO udara ekspirasi. 

Konsentrasi CO dalam udara ekspirasi merupakan indikator dari kadar COHb darah yang dapat diandalkan, oleh karena itu metode pengukuran kadar COHb secara tidak langsung melalui analisis CO udara ekspirasi lebih disukai dibandingkan dengan metode pengukuran COHb darah secara langsung karena sifatnya yang non invasif, prosedurnya mudah, dan menimbulkan kepatuhan yang lebih baik bagi pasien. 

Seorang perokok sangat penting untuk mengetahui kadar CO yang telah dihirup setiap kali merokok. Semakin kuat dan banyak jumlah rokok yang dikonsumsi, maka semakin tingghi kadar CO yang terbaca oleh alat detector gas CO.


Kepustakaan:

  1. World Health Organization. Global status report on noncommunicable diseases 2010. [Online]. 2010. [cited 2010 April 11]; Available from: http// www.who.int/nmh/publications/ncd_report2010/ en. WHO. 2011.
  2. Kumar R, Prakash S, Kushwah AS, Vijayan VK. Breath Carbon Monoxide Concentration in Cigarette and Bidi Smokers in India. The Indian Journal of Chest Diseases & Allied Sciences 2010;52:19-24.
  3. Kendrick AH. Exhaled Carbon Monoxide Devices in Smoking Cessation : Physiology, Controversies and Equipment. The Buyers Guide to Respiratory Care Product. [Online]. 2010 [cited 2010 April 11]; Available from: URL:http// www.dev.ersnet.org/uploads/Document/e1/ WEB_CHEMIN_2567_1194523664.pdf.
  4. Benowitz NL. The Use of Biologic Fluid Samples In Assesing Tobacco Smoke Consumption. In: Grabowski J, Bell CS. National Institute on Drug Abuse Research Monograph 48. Maryland: National Institute on Drug Abuse; 1983.p 6-26.
  5. Jarvis MJ, Belcher M, Vesey C, Hutchison DCS. Low cost carbon monoxide monitors in smoking assessment. Thorax. 1986;41:886-7.



Tidak ada komentar: