Sudah kita ketahui bersama bahwa upaya berhenti merokok merupakan tantangan bagi sebagian besar perokok dan pengguna Vape. Mereka menyadari bahwa asap rokok dan uap Vape mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan terutama kesehatan paru dan pernapasan. Berbagai penyakit paru timbul akibat rokok, antara lain kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ppok. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ppok. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
24 Mei 2026
15 November 2017
ANCAMAN GLOBAL, banyak orang tidak menyadarinya
8 Juli 2016
MUDIK, KEMACETAN DAN PENYAKIT PERNAPASAN
Press
Release RSUP Persahabatan :
Hari-hari terakhir ini banyak diberitakan tentang kemacetaan yang luar biasa di jalur mudik 2016 baik di jalan tol pejagan Brexit maupun pantura dari Cirebon sampai Tegal. Perjalanan dengan kendaraan bermotor maupun mobil dilakukan para pemudik untuk pulang kampung dilalui dengan kemacetan berjam-jam di jalan raya. Kondisi ini bisa saja terjadi kembali pada saat arus balik setelah mudik. Media sosial ramai membahas kemacetan ini dan bahkan dilaporkan ada korban yang meninggal 12 orang akibat kemacetan ini bukan akibat kecelakaan tetapi oleh berbagai penyebab masalah kesehatan yang belum diketahui. Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin kemacetan ini meningkatkan risiko masalah kesehatan ??. Marilah kita bahas masalah mudik, kemacetan dan penyakit paru dan pernapasan.
Potensi masalah kesehatan Pernapasan
Berbagai kondisi dialami orang saat mudik, baik dengan kendaraan bermotor maupun mobil. Pemudik dihadapkan dengan kelelahan karena perjalanan panjang, kurang istirahat, stress psikologis , asupan makanan yang tidak teratur dan tidak optimal, kepadatan populasi karena bertemu dengan banyak orang di perjalanan, kontak dengan tempat umum yang kurang higienis dan tentunya pajanan polusi udara selama di perjalanan. Kondisi ini akan lebih parah bila terjadi kemacetan berjam-jam di jalan yang dilalui. Masalah yang dihadapi oleh pemudik ini tentunya memberikan dampak pada tubuh dan meningkatkan risiko masalah kesehatan secara umum maupun khusus pada pernapasan dan bahkan risiko kematian. Semua orang yang mudik memiliki risiko yang sama, meskipun begitu risiko lebih tinggi pada populasi yang rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang yang menderita penyakit kronik.
Kelelahan dan kurang istirahat akan berdampak pada masalah kesehatan. Kelelahan dan kurang tidur berhubungan dengan terjadinya penurunan daya tahan tubuh (imunitas) serta kurangnya system recovery tubuh. Penurunan daya tahan tubuh (imunitas) meningkatkan risiko terjadinya infeksi sedangkan kurangnya system recovery tubuh akan berdampak pada performa fisik seseorang. Performa fisik yang menurun berdampak pada kemampuan aktivitas fisik termasuk dalam mengemudi dan ini meningkatkan risiko kecelakaan.
Stress psikologis selama perjalanan dan kemacetan ternyata berdampak pada masalah pernapasan. Kondisi stess mengaktivasi sistem simpatis dan adrenomedullary yang berdampak pada kecenderungan kontraksi otot polos termasuk otot polos saluran napas. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penyempitan saluran napas atau bronkrokonstriksi khususnya pada populasi yang sudah ada penyakit saluran napas sebelumnya seperti asma maupun penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). Maka risiko terjadinya serangan penyakit tersebut akan meningkat. Orang akan mengeluh sesak napas, napas berat dan bila tidak diatasi segera dapat meningkatkan risiko kematian.
Kondisi kepadatan meningkatkan juga risiko terjadinya masalah kesehatan pernapasan. Kondisi kepadatan menyebabkan terjadinya kontak dengan orang lain meningkat dan ini dapat terjadi di tempat-tempat umum selama perjalanan seperti rumah makan, rest area, SPBU dan lainnya. Ditambah dengan kondisi tempat umum yang tidak higienis serta asupan makanan yang tidak optimal meningkatkan risiko transmisi penyakit pernapasan dari satu orang ke orang lain ataupun dari lingkungan ke orang. Kondisi ini diperparah oleh penurunan daya tahan tubuh karena kelelahan dan kurang isitirahat. Risiko terjadinya infeksi saluran napas meningkat seperti common cold, influenza, maupun infeksi saluran napas akut (ISPA).
Pemudik dengan kendaraan bermotor maupun mobil dihadapkan dengan peningkatan terpajan/terpapar polusi udara yang bersumber pada polusi asap kendaraan dan polutan lingkungan diperjalanan. Polusi udara mengandung bahan berupa gas dan partikel (particulate matter). Gas akibat polusi udara kendaraan bermotor terdiri atas gas iritan seperti nitrit oksida (NOx), ozon (O3), sulphur dioksid (SOx) dan gas asfiksian seperti karbondioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO). Komponen lain dari polutan kendaraan bermotor adalah particulate matter (PM) seperti PM 10, PM 2,5 yang umumnya bersifat iritatif. Kemacetan yang terjadi saat mudik meningkatkan akumulasi bahan polutan dari kendaraan tersebut di lingkungan sekitar pemudik.
Bahan polutan yang bersifat iritatif (baik gas maupun PM) umumnya menyebabkan iritasi pada mukosa seperti mukosa mata menyebabkan mata merah, berair. Pada hidung menyebabkan hidung berair, gatal dan hidung mampet atau hidung tersumbat. Pada saluran napas atas menyebabkan sakit tenggorokan, gatal tenggorokan dan batuk-batuk serta pada saluran napas bawah dapat menyebabkan sesak napas, batuk berdahak. Proses iritasi yang terjadi dapat meningkatkan akumulasi kuman di saluran napas dan meningkatkan terjadinya infeksi saluran napas akut (ISPA). Bahan polutan yang bersifat asfiksian yaitu gas CO2 dan CO bila terhirup ke saluran napas dapat menyebabkan asfiksia atau sesak napas karena kurang oksigen. Gas CO2 maupun CO bersifat toksik ke tubuh dengan mekanisme menurunkan kandungan oksigen yang masuk ke dalam darah akibatnya tubuh kekurangan oksigen(hipoksemia). Gas CO2 bersifat asfiksian fisik, mengurangi kadar oksigen dalam udara bebas sehingga kandungan oksigen yang masuk lewat napas berkurang.
Pada ruangan tertutup, seperti dalam kabin kendaraan akumulasi gas CO2 menurunkan oksigen dalam kabin sehingga potensi kekurangan oksigen meningkat. Sedangkan gas CO apabila terhirup ke dalam saluran napas dan paru menyebabkan CO berikatan dengan sel darah merah (Hemoglobin) 300 x lebih kuat daripada Hb berikatan dengan oksigen, akibatnya darah kekurangan oksigen yang disebut hipoksemia. Gejala yang muncul pada orang yang terhirup gas ini dari ringan seperti mual-mual, sakit kepala atau pusing. Bila akumulasi berlanjut dapat timbul sesak napas, kesadaran menurun sampai pingsan dan terakhir dapat menimbulkan kematian. Pada populasi dengan penyakit kronik yang sudah ada sebelumnya kondisi hipoksemia dapat memperburuk penyakitnya dan menimbulkan kematian.
Upaya pencegahan
Upaya pencegahan dampak kesehatan paru dan pernapasan saat mudik dapat dilakukan oleh individu yang ingin melakukan mudik maupun balik ke Jakarta setelah mudik. Masing-masing individu harus melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan. Secara prinsip upaya pencegahan dan penanganan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu primer, sekunder dan tersier.
A. Upaya Primer
Upaya primer bertujuan untuk mencegah orang-orang tersensitisasi menjadi sakit dengan minimalisasi risiko , contohnya sebagai berikut :
1. Pastikan kondisi kendaraan baik, cek tidak ada kebocoran gas yang masuk ke dalam ruang dalam kabin kendaraan (untuk kendaraan mobil).
2. Memastikan kondisi kesehatan sebelum berangkat dalam kondisi sehat
3. Catat semua riwayat kesehatan anggota keluarga yang ikut, terutama terkait penyakit-penyakit yang diderita dan perhatian khusus pada anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit kronik.
4. Pada saat kemacetan, bila menggunakan kendaraan mobil, disarankan untuk tetap berada di dalam kendaraan mobil asalkan tidak ada kebocoran gas ke dalam ruang kabin kendaraan. Tutup jendela dan pintu kendaraan mobil untuk mengurangi masuknya asap polusi dan partikel ke dalam kendaraan. Nyalakan AC dengan mode recirculate, jangan mode outdoor circulate yang mengambil udara dari luar.
5. Bila terjadi kemacetan total dan udara di luar tidak panas, matikan mesin mobil untuk mengurangi polusi udara di sekitar kemacetan.
6. Hindari menambah bahan polusi udara di yang dapat masuk ke dalam tubuh misalnya tidak merokok.
7. Gunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam saluran napas dan paru (terutama bila beraktivitas di luar ruangan dan pengguna kendaraan bermotor roda dua). Bagi pengguna kendaraan mobil, tetap sediakan masker jika dalam kondisi tertentu dapat digunakan. Perhatikan cara penggunaan masker atau respirator yang benar dan tepat. Penggunaan masker atau respirator yang tidak benar mengurangi efektivitas proteksi memfiltrasi/menyaring partikel.
8. Apabila memungkinkan, hindari kawasan atau area yang mengalami kemacetan saat mudik maupun arus balik, pilih jalur yang lebih lancar dan minim kemacetan.
9. Lakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti makan bergizi, cuci tangan dan lainnya. Sering mencuci tangan terutama setelah menggunakan fasilitas umum (mencuci tangan dapat menggunakan air atau handsrub berbasis alkohol).
10. Usahakan dapat istirahat selama perjalanan agar tubuh tetap fit, jangan dipaksakan untuk tetap mengemudi tanpa istirahat.
B. Upaya Sekunder
Upaya skunder bertujuan untuk deteksi dini dan pengobatan dini masalah kesehatan yang muncul, contohnya dengan upaya sebagai berikut :
1. Mengenali gejala-gejala atau keluhan paru dan pernapasan yang timbul.Perhatian pada kelompok rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit sebelumnya (penyakit jantung, asma, PPOK dan penyakit paru lainnya), mengenali tanda-tanda terjadinya perburukan atau serangan. Hal ini sebagai upaya deteksi dini sehingga pengobatan awal dapat segera dilakukan.
2. Bila mencium bau gas , matikan mesin dan cek kendaraan apakah terjadi kebocoran gas ke dalam kabin.
3. Kenali gejala dan tanda keracunan gas CO ataupun CO2 sedini mungkin seperti sakit kepala, pusing, mual-mual. Bila hal itu terjadi segera keluar kendaraan, cari tempat teduh dan cari pertolongan medis segera.
4. Mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan awal. Diutamakan bagi yang mempunyai penyakit sebelumnya agar memastikan bahwa obat-obatan yang dikonsumsi rutin cukup banyak tersedia seala perjalanan mudik maupun arus balik. Contohnya bagi penderita asma dan PPOK, bawalah obat-obat rutin yang biasa dikonsumsi.
5. Segera ke dokter/pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat apabila terjadi masalah kesehatan yang timbul atau terjadi perburukan/serangan pada orang yang mempunyai penyakit jantung atau paru sebelumnya.
C.Upaya Tersier
Upaya tersier bertujuan untuk mencegah komplikasi dan kematian pada populasi yang sudah menderita penyakit saat perjalanan mudik atau arus balik.
1. Apabila sudah terkena penyakit selama perjalanan, segera lakukan pengobatan maksimal dan teratur dengan berobat ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat. Mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter dari fasilitas kesehatan tersebut secara teratur.
2. Jika diperlukan perawatan atau rawat inap. Pengobatan harus dilakukan secara maksimal oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Rujukan ke tingkat pelayanan lebih tinggi perlu dilakukan apabila sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang tersedia belum mencukupi.
D. Kepada instansi/Pemerintah Daerah/Penggiat Kesehatan yang melaksanakan pelayanan KESEHATAN mudik agar menyiapkan Sarana oksigen secukupnya Untuk memudahkan pertolongan Pertama pada kasus sesak nafas akibat keracunan gas/kekurangan oksigen, menyiapkan Sarana angkutan Untuk merujuk pasien ke rumah sakit terdekat bila perlu, melengkapi persediaan Obat bagi pemudik, melakukan sosialisasi gejala awal keracunan gas/kekurangan oksigen dikalangan petugas KESEHATAN dan para pemudik dan memperluas Akses petugas KESEHATAN dititik kemacetan agar dapat melakukan deteksi awal keadaan tersebut sehingga terjadinya akibat fatal tesebut tidak terulang Lagi ditahun-tahun mendatang.
Pemerintah diharapkan dapat menempatkan alat deteksi polusi udara di daerah rawan kemacetan agar dapat segera terpantau jumlah polutan berbahaya bagi kesehatan.
terima kasih.
Jakarta, 7 Juli 2016
ttd.
Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan
Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan
Hari-hari terakhir ini banyak diberitakan tentang kemacetaan yang luar biasa di jalur mudik 2016 baik di jalan tol pejagan Brexit maupun pantura dari Cirebon sampai Tegal. Perjalanan dengan kendaraan bermotor maupun mobil dilakukan para pemudik untuk pulang kampung dilalui dengan kemacetan berjam-jam di jalan raya. Kondisi ini bisa saja terjadi kembali pada saat arus balik setelah mudik. Media sosial ramai membahas kemacetan ini dan bahkan dilaporkan ada korban yang meninggal 12 orang akibat kemacetan ini bukan akibat kecelakaan tetapi oleh berbagai penyebab masalah kesehatan yang belum diketahui. Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin kemacetan ini meningkatkan risiko masalah kesehatan ??. Marilah kita bahas masalah mudik, kemacetan dan penyakit paru dan pernapasan.
Potensi masalah kesehatan Pernapasan
Berbagai kondisi dialami orang saat mudik, baik dengan kendaraan bermotor maupun mobil. Pemudik dihadapkan dengan kelelahan karena perjalanan panjang, kurang istirahat, stress psikologis , asupan makanan yang tidak teratur dan tidak optimal, kepadatan populasi karena bertemu dengan banyak orang di perjalanan, kontak dengan tempat umum yang kurang higienis dan tentunya pajanan polusi udara selama di perjalanan. Kondisi ini akan lebih parah bila terjadi kemacetan berjam-jam di jalan yang dilalui. Masalah yang dihadapi oleh pemudik ini tentunya memberikan dampak pada tubuh dan meningkatkan risiko masalah kesehatan secara umum maupun khusus pada pernapasan dan bahkan risiko kematian. Semua orang yang mudik memiliki risiko yang sama, meskipun begitu risiko lebih tinggi pada populasi yang rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang yang menderita penyakit kronik.
Kelelahan dan kurang istirahat akan berdampak pada masalah kesehatan. Kelelahan dan kurang tidur berhubungan dengan terjadinya penurunan daya tahan tubuh (imunitas) serta kurangnya system recovery tubuh. Penurunan daya tahan tubuh (imunitas) meningkatkan risiko terjadinya infeksi sedangkan kurangnya system recovery tubuh akan berdampak pada performa fisik seseorang. Performa fisik yang menurun berdampak pada kemampuan aktivitas fisik termasuk dalam mengemudi dan ini meningkatkan risiko kecelakaan.
Stress psikologis selama perjalanan dan kemacetan ternyata berdampak pada masalah pernapasan. Kondisi stess mengaktivasi sistem simpatis dan adrenomedullary yang berdampak pada kecenderungan kontraksi otot polos termasuk otot polos saluran napas. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penyempitan saluran napas atau bronkrokonstriksi khususnya pada populasi yang sudah ada penyakit saluran napas sebelumnya seperti asma maupun penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). Maka risiko terjadinya serangan penyakit tersebut akan meningkat. Orang akan mengeluh sesak napas, napas berat dan bila tidak diatasi segera dapat meningkatkan risiko kematian.
Kondisi kepadatan meningkatkan juga risiko terjadinya masalah kesehatan pernapasan. Kondisi kepadatan menyebabkan terjadinya kontak dengan orang lain meningkat dan ini dapat terjadi di tempat-tempat umum selama perjalanan seperti rumah makan, rest area, SPBU dan lainnya. Ditambah dengan kondisi tempat umum yang tidak higienis serta asupan makanan yang tidak optimal meningkatkan risiko transmisi penyakit pernapasan dari satu orang ke orang lain ataupun dari lingkungan ke orang. Kondisi ini diperparah oleh penurunan daya tahan tubuh karena kelelahan dan kurang isitirahat. Risiko terjadinya infeksi saluran napas meningkat seperti common cold, influenza, maupun infeksi saluran napas akut (ISPA).
Pemudik dengan kendaraan bermotor maupun mobil dihadapkan dengan peningkatan terpajan/terpapar polusi udara yang bersumber pada polusi asap kendaraan dan polutan lingkungan diperjalanan. Polusi udara mengandung bahan berupa gas dan partikel (particulate matter). Gas akibat polusi udara kendaraan bermotor terdiri atas gas iritan seperti nitrit oksida (NOx), ozon (O3), sulphur dioksid (SOx) dan gas asfiksian seperti karbondioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO). Komponen lain dari polutan kendaraan bermotor adalah particulate matter (PM) seperti PM 10, PM 2,5 yang umumnya bersifat iritatif. Kemacetan yang terjadi saat mudik meningkatkan akumulasi bahan polutan dari kendaraan tersebut di lingkungan sekitar pemudik.
Bahan polutan yang bersifat iritatif (baik gas maupun PM) umumnya menyebabkan iritasi pada mukosa seperti mukosa mata menyebabkan mata merah, berair. Pada hidung menyebabkan hidung berair, gatal dan hidung mampet atau hidung tersumbat. Pada saluran napas atas menyebabkan sakit tenggorokan, gatal tenggorokan dan batuk-batuk serta pada saluran napas bawah dapat menyebabkan sesak napas, batuk berdahak. Proses iritasi yang terjadi dapat meningkatkan akumulasi kuman di saluran napas dan meningkatkan terjadinya infeksi saluran napas akut (ISPA). Bahan polutan yang bersifat asfiksian yaitu gas CO2 dan CO bila terhirup ke saluran napas dapat menyebabkan asfiksia atau sesak napas karena kurang oksigen. Gas CO2 maupun CO bersifat toksik ke tubuh dengan mekanisme menurunkan kandungan oksigen yang masuk ke dalam darah akibatnya tubuh kekurangan oksigen(hipoksemia). Gas CO2 bersifat asfiksian fisik, mengurangi kadar oksigen dalam udara bebas sehingga kandungan oksigen yang masuk lewat napas berkurang.
Pada ruangan tertutup, seperti dalam kabin kendaraan akumulasi gas CO2 menurunkan oksigen dalam kabin sehingga potensi kekurangan oksigen meningkat. Sedangkan gas CO apabila terhirup ke dalam saluran napas dan paru menyebabkan CO berikatan dengan sel darah merah (Hemoglobin) 300 x lebih kuat daripada Hb berikatan dengan oksigen, akibatnya darah kekurangan oksigen yang disebut hipoksemia. Gejala yang muncul pada orang yang terhirup gas ini dari ringan seperti mual-mual, sakit kepala atau pusing. Bila akumulasi berlanjut dapat timbul sesak napas, kesadaran menurun sampai pingsan dan terakhir dapat menimbulkan kematian. Pada populasi dengan penyakit kronik yang sudah ada sebelumnya kondisi hipoksemia dapat memperburuk penyakitnya dan menimbulkan kematian.
Upaya pencegahan
Upaya pencegahan dampak kesehatan paru dan pernapasan saat mudik dapat dilakukan oleh individu yang ingin melakukan mudik maupun balik ke Jakarta setelah mudik. Masing-masing individu harus melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan. Secara prinsip upaya pencegahan dan penanganan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu primer, sekunder dan tersier.
A. Upaya Primer
Upaya primer bertujuan untuk mencegah orang-orang tersensitisasi menjadi sakit dengan minimalisasi risiko , contohnya sebagai berikut :
1. Pastikan kondisi kendaraan baik, cek tidak ada kebocoran gas yang masuk ke dalam ruang dalam kabin kendaraan (untuk kendaraan mobil).
2. Memastikan kondisi kesehatan sebelum berangkat dalam kondisi sehat
3. Catat semua riwayat kesehatan anggota keluarga yang ikut, terutama terkait penyakit-penyakit yang diderita dan perhatian khusus pada anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit kronik.
4. Pada saat kemacetan, bila menggunakan kendaraan mobil, disarankan untuk tetap berada di dalam kendaraan mobil asalkan tidak ada kebocoran gas ke dalam ruang kabin kendaraan. Tutup jendela dan pintu kendaraan mobil untuk mengurangi masuknya asap polusi dan partikel ke dalam kendaraan. Nyalakan AC dengan mode recirculate, jangan mode outdoor circulate yang mengambil udara dari luar.
5. Bila terjadi kemacetan total dan udara di luar tidak panas, matikan mesin mobil untuk mengurangi polusi udara di sekitar kemacetan.
6. Hindari menambah bahan polusi udara di yang dapat masuk ke dalam tubuh misalnya tidak merokok.
7. Gunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam saluran napas dan paru (terutama bila beraktivitas di luar ruangan dan pengguna kendaraan bermotor roda dua). Bagi pengguna kendaraan mobil, tetap sediakan masker jika dalam kondisi tertentu dapat digunakan. Perhatikan cara penggunaan masker atau respirator yang benar dan tepat. Penggunaan masker atau respirator yang tidak benar mengurangi efektivitas proteksi memfiltrasi/menyaring partikel.
8. Apabila memungkinkan, hindari kawasan atau area yang mengalami kemacetan saat mudik maupun arus balik, pilih jalur yang lebih lancar dan minim kemacetan.
9. Lakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti makan bergizi, cuci tangan dan lainnya. Sering mencuci tangan terutama setelah menggunakan fasilitas umum (mencuci tangan dapat menggunakan air atau handsrub berbasis alkohol).
10. Usahakan dapat istirahat selama perjalanan agar tubuh tetap fit, jangan dipaksakan untuk tetap mengemudi tanpa istirahat.
B. Upaya Sekunder
Upaya skunder bertujuan untuk deteksi dini dan pengobatan dini masalah kesehatan yang muncul, contohnya dengan upaya sebagai berikut :
1. Mengenali gejala-gejala atau keluhan paru dan pernapasan yang timbul.Perhatian pada kelompok rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit sebelumnya (penyakit jantung, asma, PPOK dan penyakit paru lainnya), mengenali tanda-tanda terjadinya perburukan atau serangan. Hal ini sebagai upaya deteksi dini sehingga pengobatan awal dapat segera dilakukan.
2. Bila mencium bau gas , matikan mesin dan cek kendaraan apakah terjadi kebocoran gas ke dalam kabin.
3. Kenali gejala dan tanda keracunan gas CO ataupun CO2 sedini mungkin seperti sakit kepala, pusing, mual-mual. Bila hal itu terjadi segera keluar kendaraan, cari tempat teduh dan cari pertolongan medis segera.
4. Mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan awal. Diutamakan bagi yang mempunyai penyakit sebelumnya agar memastikan bahwa obat-obatan yang dikonsumsi rutin cukup banyak tersedia seala perjalanan mudik maupun arus balik. Contohnya bagi penderita asma dan PPOK, bawalah obat-obat rutin yang biasa dikonsumsi.
5. Segera ke dokter/pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat apabila terjadi masalah kesehatan yang timbul atau terjadi perburukan/serangan pada orang yang mempunyai penyakit jantung atau paru sebelumnya.
C.Upaya Tersier
Upaya tersier bertujuan untuk mencegah komplikasi dan kematian pada populasi yang sudah menderita penyakit saat perjalanan mudik atau arus balik.
1. Apabila sudah terkena penyakit selama perjalanan, segera lakukan pengobatan maksimal dan teratur dengan berobat ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat. Mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter dari fasilitas kesehatan tersebut secara teratur.
2. Jika diperlukan perawatan atau rawat inap. Pengobatan harus dilakukan secara maksimal oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Rujukan ke tingkat pelayanan lebih tinggi perlu dilakukan apabila sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang tersedia belum mencukupi.
D. Kepada instansi/Pemerintah Daerah/Penggiat Kesehatan yang melaksanakan pelayanan KESEHATAN mudik agar menyiapkan Sarana oksigen secukupnya Untuk memudahkan pertolongan Pertama pada kasus sesak nafas akibat keracunan gas/kekurangan oksigen, menyiapkan Sarana angkutan Untuk merujuk pasien ke rumah sakit terdekat bila perlu, melengkapi persediaan Obat bagi pemudik, melakukan sosialisasi gejala awal keracunan gas/kekurangan oksigen dikalangan petugas KESEHATAN dan para pemudik dan memperluas Akses petugas KESEHATAN dititik kemacetan agar dapat melakukan deteksi awal keadaan tersebut sehingga terjadinya akibat fatal tesebut tidak terulang Lagi ditahun-tahun mendatang.
Pemerintah diharapkan dapat menempatkan alat deteksi polusi udara di daerah rawan kemacetan agar dapat segera terpantau jumlah polutan berbahaya bagi kesehatan.
terima kasih.
Jakarta, 7 Juli 2016
ttd.
Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan
Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan
29 Oktober 2014
Pengaruh polutan asap kebakaran
Asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan mengandung berbagai komponen yang dapat membahayakan kesehatan. Komponen tersebut, berbentuk gas maupun partikel, bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Dampak yang ditimbulakn tergantung umur, penyakit respirasi sebelumnya, infeksi paru, keadaan kardiovaskuler dan ukuran partikel. Pengaruh polutan asap kebakaran pada sistem pernapasan dan organ lain bisa dilihat pada tabel berikut ini.
9 September 2014
Kanula nasal, terapi oksigen aliran lambat
Terapi oksigen dengan aliran lambat, secara definisi, berarti tidak memberikan semua gas yang diperlukan untuk memenuhi total ventilasi semenit pasien. Dengan sistem ini, FiO2 yang disampaikan ke pasien hanya bisa diperkirakan, karena dipengaruhi kelembaban dan suhu, sehingga FiO2 yang sebenarnya tidak dapat ditentukan dengan tepat. Sistem pemberian oksigen dengan aliran lambat meliputi kanula nasal, simple face mask, partial rebreathing mask dan nonrebreathing mask.
6 Agustus 2014
Managemen nutrisi pasien PPOK
Perhatian terhadap nutrisi harusnya dilakukan secara rutin pada semua pasien PPOK, dan juga kelainan atau penyakit lain. Kurang perhatian terhadap nutrisi bisa menyebabkan pasien menjadi lemah akibat penggunaan protein dalam otot respirasi mereka.
9 Juli 2014
Nutrisi pada penyakit respirasi
Bernapas dan
makan merupakan dua proses dasar kehidupan yang saling berhubungan erat dalam
mekanisme, asosiasi emosi dan fisiologi. Udara dan makanan kadang masuk bersama saat menelan, lalu sementara mengalami proses yang terpisah, kemudian bergabung lagi dalam aliran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh untuk selanjutnya terjadi produksi energi.
15 Juni 2014
Klasifikasi obat inhalasi
Kelompok utama obat untuk terapi respirasi adalah obat aerosol yang mengobati secara langsung penyakit saluran napas atas dan bawah. Obat diberikan dengan inhalasi melalui mulut atau hidung sehingga bisa mengobati saluran napas secara topikal dan lokal. Beberapa keuntungan obat inhalasi adalah:3 Juni 2014
Gagal napas hiperkapnia
Gagal napas hiperkapnia adalah suatu keadaan peningkatan kadar CO2 dalam darah, terjadi akibat ketidakmampuan ventilasi untuk mempertahankan PaCO2 dalam nilai normal agar aktivitas metabolisme berjalan normal. Gagal napas ini umumnya disebabkan oleh PPOK, serangan asma berat, penurunan fungsi pengendali napas (seperti tumor atau infeksi di sistem saraf pusat, terapi, dan obat), penyakit neuromuskular-skeletal (seperti myastenia gravis, SGB, dan trauma) dan obstruksi saluran napas atas.
11 April 2014
Resistensi saluran napas pada ventilasi paru
Sistem respirasi bertanggung jawab mengantarkan oksigen (O2) sebagai salah satu bahan penting yang diperlukan untuk metabolisme sel dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) sebagai hasil metabolisme sel. Proses respirasi terbagi dua yaitu respirasi eksterna dan respirasi interna. Respirasi eksterna meliputi ventilasi paru (proses mekanik yang mengatur keluar masuknya udara dari udara luar sampai ke alveoli) dan difusi paru (proses pertukaran gas antara ruang alveoli dengan kapiler darah menembus dinding alveoli, jaringan interstisial dan endotel kapiler paru).
11 Januari 2014
Penyebab asidosis respiratorik
Tekanan parsial CO2 dalam arteri dalam keadaan normal dipertahankan tepat atau mendekati nilai 40 torr (kisaran normal disepakati 35 sampai 45 torr) dengan mekanisme yang mengatur pernapasan. Sensor yang menerima rangsang dari aliran darah arteri dan cairan serebrospinal akan mempengaruhi pusat pengaturan napas untuk menjaga agar PCO2 arteri berada di kisaran 40 torr.
26 November 2013
Asidosis respiratorik
Asidosis respiratorik terjadi apabila terjadi gangguan ventilasi yang mengganggu pengeluaran karbondioksida sehingga terjadi peningkatan PaCO2 (hiperkapnia). Pada tahap awal sistem bufer masih dapat mengatasi, namun bila gagal selanjutnya terjadi penurunan pH. Peningkatan PaCO2 akan merangsang kemoreseptor yang terdapat pada medula dan badan karotis. Respon kemoreseptor di medula berupa peningkatan ventilasi paru.
7 November 2013
Kategori penyakit penyebab dispnea
Dispnea merupakan keluhan utama setiap gangguan atau penyakit yang
melibatkan sistem pernapasan. Diagnosis banding dispnea meliputi penyakit paru,
jantung, dinding dada, neuromuskuler, ginjal, reumatologi, hematologi dan
penyakit psikiatri. Penyakit paru sendiri yang menyebabkan dispnea meliputi
penyakit utama paru, dinding dada, pleura, diafragma dan saluran napas.
Penyakit utama paru diantaranya emfisema, bronchitis, asma, PPOK, penyakit paru
interstisial, fibrosis paru, hipertensi paru primer, dll.
28 Oktober 2013
Latihan Jasmani pada PPOK
Berkurangnya aktivitas sehari-hari pasien PPOK menyebabkan penurunan fungsi otot skeletal. Imobilisasi selama 4-6 minggu menyebabkan penurunan kekuatan otot, diameter serat otot, penyimpangan energi , dan aktivitas enzim metabolik. Berbaring di tempat tidur dalam waktu lama menyebabkan penurunan ambilan oksigen dan kendali kardiovaskuler.
21 Oktober 2013
Rehalilitasi paru pada PPOK
![]() |
| Rehabilitasi paru |
Tujuan program rehabilitasi pada PPOK adalah untuk meningkatkan toleransi terhadap latihan dan memperbaiki kualitas hidup pasien PPOK. Pasien yang ikut dalam program rehabilitasi adalah mereka yang telah mendapatkan pengobatan optimal disertai:
29 September 2013
NYERI DADA, akibat kelainan paru
Hampir semua nyeri dada akibat kelainan paru disebabkan karena inflamasi atau traksi pada struktur sekitar paru, seperti pleura parietal atau mediastinum. Kelainan hanya pada parenkim paru tidak menyebabkan nyeri kecuali jika melibatkan struktur lainnya.
28 Agustus 2013
PPOK, bolehkah naik pesawat udara?
Hipoksemia kronis dan progresif pada PPOK bisa merusak sel dan jaringan tubuh, maka oksigen yang cukup bagi pasien sangat diperlukan. Pasien PPOK stabil yang telah terkompensasi dengan oksigen ruangan pada permukaan laut, bila melakukan perjalanan udara dapat mengalami hipoksemia. Dengan persiapan yang baik, perjalanan udara dapat dilakukan bahkan pada pasien PPOK dengan gagal napas kronik stabil.
27 Agustus 2013
SAKIT TB PARU, bolehkah merokok?
![]() |
| Bahaya asap rokok |
25 Agustus 2013
TERAPI OKSIGEN JANGKA PANJANG
Hipoksemia jangka lama bisa menyebabkan berbagai efek merugikan, seperti hipertensi pulmonal, kor pulmonale, gangguan neuropsikiatrik, dan yang paling penting, penurunan daya tahan hidup (survival).
16 Agustus 2013
DISFUNGSI DIAFRAGMA
![]() |
| Anatomi diafragma |
Diafragma adalah struktur berbentuk kubah yang memisahkan rongga
toraks dengan rongga abdomen. Diafragma merupakan otot respirasi utama,
disyarafi oleh nervus frenikus, cabang nervus cervical C3-C5. Aktivitas mekanik
diafragma paling baik diketahui dengan mempelajari anatomi dan kaitannya dengan
dinding dada.
Langganan:
Postingan (Atom)











