Press
Release RSUP Persahabatan :
Hari-hari terakhir ini banyak diberitakan tentang kemacetaan yang luar biasa
di jalur mudik 2016 baik di jalan tol pejagan Brexit maupun pantura dari
Cirebon sampai Tegal. Perjalanan dengan kendaraan bermotor maupun mobil
dilakukan para pemudik untuk pulang kampung dilalui dengan kemacetan berjam-jam
di jalan raya. Kondisi ini bisa saja terjadi kembali pada saat arus balik
setelah mudik. Media sosial ramai membahas kemacetan ini dan bahkan dilaporkan
ada korban yang meninggal 12 orang akibat kemacetan ini bukan akibat kecelakaan
tetapi oleh berbagai penyebab masalah kesehatan yang belum diketahui. Yang
menjadi pertanyaan apakah mungkin kemacetan ini meningkatkan risiko masalah
kesehatan ??. Marilah kita bahas masalah mudik, kemacetan dan penyakit paru dan
pernapasan.
Potensi masalah kesehatan Pernapasan
Berbagai kondisi dialami orang saat mudik, baik dengan kendaraan bermotor
maupun mobil. Pemudik dihadapkan dengan kelelahan karena perjalanan panjang,
kurang istirahat, stress psikologis , asupan makanan yang tidak teratur dan
tidak optimal, kepadatan populasi karena bertemu dengan banyak orang di
perjalanan, kontak dengan tempat umum yang kurang higienis dan tentunya pajanan
polusi udara selama di perjalanan. Kondisi ini akan lebih parah bila terjadi
kemacetan berjam-jam di jalan yang dilalui. Masalah yang dihadapi oleh pemudik
ini tentunya memberikan dampak pada tubuh dan meningkatkan risiko masalah
kesehatan secara umum maupun khusus pada pernapasan dan bahkan risiko kematian.
Semua orang yang mudik memiliki risiko yang sama, meskipun begitu risiko lebih
tinggi pada populasi yang rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang yang
menderita penyakit kronik.
Kelelahan dan kurang istirahat akan berdampak pada masalah kesehatan.
Kelelahan dan kurang tidur berhubungan dengan terjadinya penurunan daya tahan
tubuh (imunitas) serta kurangnya system recovery tubuh. Penurunan daya
tahan tubuh (imunitas) meningkatkan risiko terjadinya infeksi sedangkan
kurangnya system recovery tubuh akan berdampak pada performa fisik seseorang.
Performa fisik yang menurun berdampak pada kemampuan aktivitas fisik termasuk
dalam mengemudi dan ini meningkatkan risiko kecelakaan.
Stress psikologis selama perjalanan dan kemacetan ternyata berdampak pada
masalah pernapasan. Kondisi stess mengaktivasi sistem simpatis dan
adrenomedullary yang berdampak pada kecenderungan kontraksi otot polos termasuk
otot polos saluran napas. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penyempitan
saluran napas atau bronkrokonstriksi khususnya pada populasi yang sudah ada
penyakit saluran napas sebelumnya seperti asma maupun penyakit paru obstruksi
kronik (PPOK). Maka risiko terjadinya serangan penyakit tersebut akan
meningkat. Orang akan mengeluh sesak napas, napas berat dan bila tidak diatasi
segera dapat meningkatkan risiko kematian.
Kondisi kepadatan meningkatkan juga risiko terjadinya masalah kesehatan
pernapasan. Kondisi kepadatan menyebabkan terjadinya kontak dengan orang lain
meningkat dan ini dapat terjadi di tempat-tempat umum selama perjalanan seperti
rumah makan, rest area, SPBU dan lainnya. Ditambah dengan kondisi tempat umum
yang tidak higienis serta asupan makanan yang tidak optimal meningkatkan risiko
transmisi penyakit pernapasan dari satu orang ke orang lain ataupun dari
lingkungan ke orang. Kondisi ini diperparah oleh penurunan daya tahan tubuh
karena kelelahan dan kurang isitirahat. Risiko terjadinya infeksi saluran napas
meningkat seperti common cold, influenza, maupun infeksi saluran napas akut
(ISPA).
Pemudik dengan kendaraan bermotor maupun mobil dihadapkan dengan peningkatan
terpajan/terpapar polusi udara yang bersumber pada polusi asap kendaraan dan
polutan lingkungan diperjalanan. Polusi udara mengandung bahan berupa gas dan
partikel (particulate matter). Gas akibat polusi udara kendaraan bermotor
terdiri atas gas iritan seperti nitrit oksida (NOx), ozon (O3), sulphur dioksid
(SOx) dan gas asfiksian seperti karbondioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO).
Komponen lain dari polutan kendaraan bermotor adalah particulate matter (PM)
seperti PM 10, PM 2,5 yang umumnya bersifat iritatif. Kemacetan yang
terjadi saat mudik meningkatkan akumulasi bahan polutan dari kendaraan tersebut
di lingkungan sekitar pemudik.
Bahan polutan yang bersifat iritatif (baik gas maupun PM) umumnya menyebabkan
iritasi pada mukosa seperti mukosa mata menyebabkan mata merah, berair. Pada
hidung menyebabkan hidung berair, gatal dan hidung mampet atau hidung
tersumbat. Pada saluran napas atas menyebabkan sakit tenggorokan, gatal
tenggorokan dan batuk-batuk serta pada saluran napas bawah dapat menyebabkan
sesak napas, batuk berdahak. Proses iritasi yang terjadi dapat meningkatkan
akumulasi kuman di saluran napas dan meningkatkan terjadinya infeksi saluran
napas akut (ISPA). Bahan polutan yang bersifat asfiksian yaitu gas CO2 dan CO
bila terhirup ke saluran napas dapat menyebabkan asfiksia atau sesak napas
karena kurang oksigen. Gas CO2 maupun CO bersifat toksik ke tubuh dengan
mekanisme menurunkan kandungan oksigen yang masuk ke dalam darah akibatnya
tubuh kekurangan oksigen(hipoksemia). Gas CO2 bersifat asfiksian fisik,
mengurangi kadar oksigen dalam udara bebas sehingga kandungan oksigen yang
masuk lewat napas berkurang.
Pada ruangan tertutup, seperti dalam kabin kendaraan akumulasi gas CO2
menurunkan oksigen dalam kabin sehingga potensi kekurangan oksigen meningkat.
Sedangkan gas CO apabila terhirup ke dalam saluran napas dan paru menyebabkan
CO berikatan dengan sel darah merah (Hemoglobin) 300 x lebih kuat daripada Hb
berikatan dengan oksigen, akibatnya darah kekurangan oksigen yang disebut
hipoksemia. Gejala yang muncul pada orang yang terhirup gas ini dari
ringan seperti mual-mual, sakit kepala atau pusing. Bila akumulasi berlanjut
dapat timbul sesak napas, kesadaran menurun sampai pingsan dan terakhir dapat
menimbulkan kematian. Pada populasi dengan penyakit kronik yang sudah ada
sebelumnya kondisi hipoksemia dapat memperburuk penyakitnya dan menimbulkan
kematian.
Upaya pencegahan
Upaya pencegahan dampak kesehatan paru dan pernapasan saat mudik dapat
dilakukan oleh individu yang ingin melakukan mudik maupun balik ke Jakarta
setelah mudik. Masing-masing individu harus melakukan berbagai upaya untuk
mencegah terjadinya masalah kesehatan. Secara prinsip upaya pencegahan dan
penanganan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu primer, sekunder dan tersier.
A. Upaya Primer
Upaya primer bertujuan untuk mencegah orang-orang tersensitisasi menjadi sakit
dengan minimalisasi risiko , contohnya sebagai berikut :
1. Pastikan kondisi kendaraan baik, cek tidak ada kebocoran gas yang masuk ke
dalam ruang dalam kabin kendaraan (untuk kendaraan mobil).
2. Memastikan kondisi kesehatan sebelum berangkat dalam kondisi sehat
3. Catat semua riwayat kesehatan anggota keluarga yang ikut, terutama terkait
penyakit-penyakit yang diderita dan perhatian khusus pada anak-anak, orang tua
dan orang dengan penyakit kronik.
4. Pada saat kemacetan, bila menggunakan kendaraan mobil, disarankan untuk
tetap berada di dalam kendaraan mobil asalkan tidak ada kebocoran gas ke dalam
ruang kabin kendaraan. Tutup jendela dan pintu kendaraan mobil untuk mengurangi
masuknya asap polusi dan partikel ke dalam kendaraan. Nyalakan AC dengan mode
recirculate, jangan mode outdoor circulate yang mengambil udara dari luar.
5. Bila terjadi kemacetan total dan udara di luar tidak panas, matikan mesin
mobil untuk mengurangi polusi udara di sekitar kemacetan.
6. Hindari menambah bahan polusi udara di yang dapat masuk ke dalam tubuh
misalnya tidak merokok.
7. Gunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam
saluran napas dan paru (terutama bila beraktivitas di luar ruangan dan pengguna
kendaraan bermotor roda dua). Bagi pengguna kendaraan mobil, tetap sediakan
masker jika dalam kondisi tertentu dapat digunakan. Perhatikan cara penggunaan
masker atau respirator yang benar dan tepat. Penggunaan masker atau respirator
yang tidak benar mengurangi efektivitas proteksi memfiltrasi/menyaring
partikel.
8. Apabila memungkinkan, hindari kawasan atau area yang mengalami kemacetan
saat mudik maupun arus balik, pilih jalur yang lebih lancar dan minim
kemacetan.
9. Lakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti makan bergizi, cuci
tangan dan lainnya. Sering mencuci tangan terutama setelah menggunakan
fasilitas umum (mencuci tangan dapat menggunakan air atau handsrub berbasis
alkohol).
10. Usahakan dapat istirahat selama perjalanan agar tubuh tetap fit, jangan
dipaksakan untuk tetap mengemudi tanpa istirahat.
B. Upaya Sekunder
Upaya skunder bertujuan untuk deteksi dini dan pengobatan dini masalah
kesehatan yang muncul, contohnya dengan upaya sebagai berikut :
1. Mengenali gejala-gejala atau keluhan paru dan pernapasan yang
timbul.Perhatian pada kelompok rentan seperti anak-anak, orang tua dan orang
dengan penyakit sebelumnya (penyakit jantung, asma, PPOK dan penyakit paru
lainnya), mengenali tanda-tanda terjadinya perburukan atau serangan. Hal ini
sebagai upaya deteksi dini sehingga pengobatan awal dapat segera dilakukan.
2. Bila mencium bau gas , matikan mesin dan cek kendaraan apakah terjadi
kebocoran gas ke dalam kabin.
3. Kenali gejala dan tanda keracunan gas CO ataupun CO2 sedini mungkin seperti
sakit kepala, pusing, mual-mual. Bila hal itu terjadi segera keluar
kendaraan, cari tempat teduh dan cari pertolongan medis segera.
4. Mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan awal. Diutamakan bagi yang
mempunyai penyakit sebelumnya agar memastikan bahwa obat-obatan yang dikonsumsi
rutin cukup banyak tersedia seala perjalanan mudik maupun arus balik. Contohnya
bagi penderita asma dan PPOK, bawalah obat-obat rutin yang biasa dikonsumsi.
5. Segera ke dokter/pelayanan kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat
apabila terjadi masalah kesehatan yang timbul atau terjadi perburukan/serangan
pada orang yang mempunyai penyakit jantung atau paru sebelumnya.
C.Upaya Tersier
Upaya tersier bertujuan untuk mencegah komplikasi dan kematian pada populasi
yang sudah menderita penyakit saat perjalanan mudik atau arus balik.
1. Apabila sudah terkena penyakit selama perjalanan, segera lakukan pengobatan
maksimal dan teratur dengan berobat ke dokter atau fasilitas pelayanan
kesehatan terdekat atau posko kesehatan terdekat. Mengkonsumsi obat yang
diberikan oleh dokter dari fasilitas kesehatan tersebut secara teratur.
2. Jika diperlukan perawatan atau rawat inap. Pengobatan harus dilakukan secara
maksimal oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Rujukan ke tingkat pelayanan lebih
tinggi perlu dilakukan apabila sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang
tersedia belum mencukupi.
D. Kepada instansi/Pemerintah Daerah/Penggiat Kesehatan yang melaksanakan
pelayanan KESEHATAN mudik agar menyiapkan Sarana oksigen secukupnya Untuk
memudahkan pertolongan Pertama pada kasus sesak nafas akibat keracunan
gas/kekurangan oksigen, menyiapkan Sarana angkutan Untuk merujuk pasien
ke rumah sakit terdekat bila perlu, melengkapi persediaan Obat bagi pemudik,
melakukan sosialisasi gejala awal keracunan gas/kekurangan oksigen dikalangan
petugas KESEHATAN dan para pemudik dan memperluas Akses petugas KESEHATAN
dititik kemacetan agar dapat melakukan deteksi awal keadaan tersebut sehingga
terjadinya akibat fatal tesebut tidak terulang Lagi ditahun-tahun mendatang.
Pemerintah diharapkan dapat menempatkan alat deteksi polusi udara di daerah
rawan kemacetan agar dapat segera terpantau jumlah polutan berbahaya bagi
kesehatan.
terima kasih.
Jakarta, 7 Juli 2016
ttd.
Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
FKUI RSUP Persahabatan
Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan